Namun, Chon mengatakan struktur ini membatasi kemampuan untuk menarik fakultas dan mahasiswa terbaik.
"Program gelar akan memungkinkan pengembangan kurikulum yang lebih sistematis, rekrutmen fakultas yang stabil, serta investasi jangka panjang dalam pendidikan," jelasnya.
Inisiatif ini sedang dalam peninjauan Kementerian Pendidikan, dengan target persetujuan akhir tahun ini dan pembukaan pada tahun depan.
Jika berjalan sesuai rencana, sekolah akan menyediakan program dalam tujuh bahasa: Inggris, Jepang, Cina, Jerman, Spanyol, dan Rusia.
Awalnya, pendaftaran dibatasi untuk 60 mahasiswa, terdiri dari 30 orang Korea dan 30 mahasiswa internasional.
Chon mengatakan jumlah tersebut ideal untuk pelatihan intensif berbasis praktik.
"Program ini akan mencakup kelas praktik, kesempatan berkolaborasi dengan profesor dan penulis, serta pengalaman langsung dengan penerbit luar negeri," katanya.
Keikutsertaan mahasiswa internasional juga bersifat strategis. Lulusan diharapkan menjadi penerjemah, perencana budaya, atau akademisi di negara asal mereka.
Chon menekankan bahwa penerjemahan sastra bukan sekadar tugas teknis mengubah kata antar bahasa, melainkan proses kreatif yang membutuhkan kepekaan budaya, resonansi emosional, dan penilaian interpretatif.
>>> Distrik Jung Seoul Sajikan Hutan sebagai Obat Lelah Perkotaan
"Sastra Korea dapat memperkuat posisinya dalam sistem sastra internasional hanya dengan membina penerjemah berketerampilan tinggi yang mampu menghasilkan karya sesuai selera pembaca lokal," pungkasnya.