Penggemar Jerman Maximilian Kirch dari Duesseldorf juga mencoba barbekyu di Dallas dan memamerkan topi koboi Texas barunya. "Tentu saya ingin merasakan lebih banyak lagi," katanya.
White menambahkan, "Ada kehangatan khas saat Anda keluar dari jalur wisata.
Momen seperti penggemar Maroko yang dibantu menemukan gerbang di Dallas, atau keluarga Jerman yang mendapat petunjuk arah dari orang asing di Seattle, tidak menjadi berita utama, tetapi benar-benar membangun merek AS."
Kekhawatiran yang Masih Ada
Beberapa kekhawatiran pra-turnamen masih tersisa. Cuaca panas di Miami dan kota lain menjadi tantangan bagi pemain dan penggemar.
Harga tiket dan perjalanan yang tinggi juga menghalangi banyak orang untuk datang.
Pembatasan visa membuat penggemar dari Iran, Haiti, Pantai Gading, dan Senegal harus menonton dari rumah. Namun, warga AS turun tangan mendukung tim-tim tersebut.
Jessica Ambres, warga Brooklyn, mengenakan kaus Senegal saat pertandingan Prancis vs Senegal di New Jersey. "Saya berharap mereka bisa mendengar saya dari tribun atas," katanya.
Sebagai warga kulit hitam Amerika, ia merasa terhubung dengan diaspora Afrika.
Di berbagai stadion, warga AS tidak hanya mendukung tim sendiri atau negara leluhur, tetapi juga bersorak untuk tim underdog dan yang basis penggemarnya kecil.
Para politisi dan pebisnis AS berharap keramahan ini akan dikenang setelah peluit akhir berbunyi. "Saya berharap Tartan Army terus kembali ke Boston," kata Wali Kota Boston Michelle Wu.
>>> Serangan Israel di Lebanon Selatan Memanas, Pembicaraan AS-Iran Ditunda
"Tentu, nikmati pertandingan sekarang, tetapi kami ingin melihat Anda kapan pun musimnya, tahun berapa pun. Ini rumah Anda."