NEW YORK — Sebelum Piala Dunia 2026 bergulir, banyak penggemar internasional meragukan Amerika Serikat sebagai tuan rumah bersama turnamen sepak bola terbesar di dunia.
Kekhawatiran meliputi akses visa, biaya tinggi, kekerasan senjata, dan minimnya minat lokal terhadap olahraga ini.
>>> Menlu Italia Batalkan Kunjungan ke AS, Meloni Bantah Klaim Trump
Namun, saat turnamen berlangsung, media sosial dibanjiri unggahan dari penggemar yang baru pertama kali mengunjungi AS.
Mereka menemukan sisi positif: budaya ritel 24 jam, isi ulang soda gratis, sayap ayam dengan saus ranch, dan sambutan hangat dari warga Amerika.
Penggemar Skotlandia Gail Nicholl menceritakan pengalamannya di sebuah pub Boston. "Saya bertemu dua gadis cantik dari Boston.
Mereka terus mengatakan 'selamat datang di Boston, Massachusetts!' Mereka menyayangi kami, kami menyayangi mereka.
Semua orang sangat ramah," ujarnya.
Seorang penggemar Swiss dari Zurich juga memuji keramahan warga AS di forum Reddit. Banyak wisatawan lain memberikan pujian serupa.
Dampak Positif bagi Citra AS
Pakar analisis olahraga menilai sambutan hangat ini dapat memperbaiki reputasi AS yang sempat tercoreng oleh kebijakan pemerintah yang konfrontatif.
"Olahraga berfungsi sebagai pintu depan bagi kota, negara bagian, dan negara.
Ini sering menjadi pertemuan emosional pertama seseorang dengan suatu tempat," kata Darin White, pendiri Program Industri Olahraga Universitas Samford.
Penelitian menunjukkan bahwa menjadi tuan rumah acara olahraga besar dapat mengubah stereotip yang sudah lama melekat.
Menjelajahi Destinasi Non-Wisata
Yang menarik dari Piala Dunia 2026 adalah paparan terhadap kota-kota yang jarang dikunjungi turis, seperti Kansas City, Atlanta, dan Houston.
>>> Pemerintah Pastikan Program Makan Bergizi Gratis Tetap Berlanjut
Di Kansas City, pendukung Argentina mencoba barbekyu lokal 'dry rub' dan memujinya.