Orangtua seorang gadis yang diperkosa saat berusia 12 tahun oleh orang dewasa yang dikenalnya melalui Snapchat telah menggugat perusahaan induk Snap dan pelaku di pengadilan negara bagian Missouri.
Gugatan yang diajukan pada Rabu (25/6/2025) itu menuduh Snap menolak menonaktifkan fitur berbahaya di aplikasinya atau memperingatkan orangtua tentang potensi bahaya.
Menurut gugatan, gadis tersebut mulai menggunakan Snapchat pada 2021 saat berusia 11 tahun tanpa sepengetahuan orangtuanya.
Meskipun aplikasi mewajibkan pengguna berusia 13 tahun untuk mendaftar, gugatan menyebutkan bahwa anak-anak tahu cara mudah melewati persyaratan usia minimum.
Sekitar setahun setelah mulai menggunakan Snapchat, aplikasi tersebut merekomendasikan gadis itu dan remaja putri dari sekolah menengah atas terdekat sebagai teman kepada terdakwa Gabriel Joel Valentin-Rios, seorang dewasa yang tidak memiliki hubungan nyata dengan mereka.
Snapchat tidak memperingatkan anak-anak bahwa terhubung dengan orang asing bisa berbahaya.
Setelah terhubung, Valentin-Rios mulai mengirimkan foto telanjang yang tidak diminta kepada gadis tersebut.
Gadis itu tidak menginginkan foto-foto itu dan awalnya tidak membalas, tetapi desain produk Snapchat membuatnya mustahil untuk menghindari konten eksplisit tersebut.
Melalui fitur Snap Maps, aplikasi juga memberikan alamat rumah gadis itu kepada Valentin-Rios tanpa sepengetahuannya.
Valentin-Rios kemudian melakukan pencucian otak terhadap gadis itu, meyakinkannya bahwa dia adalah seorang anak SMA lokal berusia 17 tahun, bukan pria berusia 25 tahun.
Akhirnya ia membujuk gadis itu untuk bertemu langsung dan memperkosanya.
Valentin-Rios mengaku bersalah atas pemerkosaan statutori dan saat ini menjalani hukuman 18 tahun penjara di Missouri.
Gugatan menyebut Snapchat tahu bahwa Valentin-Rios memiliki banyak akun — meskipun melanggar kebijakan aplikasi — termasuk satu yang ia gunakan untuk memikat remaja putri.
Snap tidak segera menanggapi permintaan komentar pada Rabu sore.
Gadis itu didiagnosis menderita PTSD, kecemasan, dan depresi, menurut gugatan.
Penggugat menuntut ganti rugi yang tidak disebutkan jumlahnya dan meminta pengadilan memaksa Snap menghentikan praktik yang merugikan anak-anak.
"Serangan ini tidak terjadi dalam ruang hampa — ini terjadi karena desain produk Snapchat memudahkan predator untuk menjangkau dan memanipulasi anak yang tidak curiga," kata Matthew Bergman, pendiri Social Media Victims Law Center yang mewakili penggugat.
"Eksekutif Snap sudah lama tahu bahwa fitur mereka menciptakan lingkungan sempurna bagi predator untuk mengeksploitasi anak-anak, namun mereka berulang kali gagal membuat platform aman."
Ini bukan gugatan pertama terhadap Snap.
New Mexico menggugat perusahaan itu pada 2024, mengatakan fitur desain platform mendorong sextortion, pelecehan seksual, dan kontak yang tidak diinginkan dari orang dewasa ke anak di bawah umur.
Menurut gugatan, Snap sadar tetapi gagal memperingatkan orangtua, pengguna muda, dan publik bahwa sextortion adalah masalah yang merajalela, masif, dan sangat mengkhawatirkan di Snapchat.
Seorang hakim menolak mosi perusahaan untuk membatalkan gugatan tahun lalu.
Ada juga gugatan individu lain yang tertunda, termasuk satu di Vermont atas nama dua gadis berusia 12 tahun yang dilecehkan secara seksual oleh orang dewasa yang mereka temui di Snapchat.