Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran, hanya beberapa jam setelah sebuah tanker diserang di Selat Hormuz.
Ini merupakan eskalasi terburuk sejak kedua pihak menandatangani kesepakatan damai sementara dua pekan lalu.
>>> Frustrasi Meningkat di Venezuela, Korban Gempa Capai 1.430 Jiwa
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan pada Sabtu bahwa pasukannya melakukan serangan baru setelah sebuah tanker berbendera Panama diserang oleh drone Iran pada Sabtu dini hari.
Di Iran, penyiar negara IRIB melaporkan ledakan terdengar di Sirik, Iran selatan, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Serangan Balasan dan Tuduhan Pelanggaran Gencatan Senjata
"Iran diberi kesempatan untuk menghormati perjanjian gencatan senjata tetapi memilih untuk tidak melakukannya," demikian pernyataan CENTCOM.
Serangan tersebut disebut sebagai respons langsung terhadap agresi Iran yang berkelanjutan terhadap pelayaran komersial.
Serangan itu menargetkan fasilitas pengawasan militer, komunikasi, pertahanan udara, penyimpanan drone, dan penempatan ranjau Iran.
Seorang pejabat pertahanan AS kemudian melaporkan bahwa serangan terhadap sasaran Iran telah selesai, menurut Fox News.
Washington sebelumnya mengatakan telah menghantam sasaran Iran pada malam hari. Iran mengatakan pada Sabtu bahwa mereka membalas dengan menyerang sasaran yang terkait dengan pasukan AS.
Ketegangan di Selat Hormuz dan Dampak Pelayaran
Serangan terhadap tanker pada Sabtu terjadi setelah serangan terhadap kapal kargo pada Kamis yang memicu eskalasi terbaru.
Iran telah melakukan upaya baru untuk menguasai jalur pelayaran energi terpenting di dunia, yang mulai dibuka kembali setelah berbulan-bulan gangguan.
Badan keamanan maritim Inggris UKMTO mengatakan tanker yang diserang pada Sabtu mengalami kerusakan pada anjungannya, namun seluruh awak dilaporkan selamat.
Pusat Informasi Maritim Gabungan, yang dijalankan oleh koalisi angkatan laut yang melindungi pelayaran, menaikkan tingkat ancaman keamanan akibat insiden baru-baru ini.
