Pasukan Garda Revolusi Iran melancarkan serangan drone dan rudal pada Minggu (28/6) yang menarget Bahrain dan Kuwait.
Serangan ini merupakan respons atas serangan udara Amerika Serikat yang menghantam sejumlah target di Republik Islam Iran.
>>> Gelombang Panas Eropa Pecahkan Rekor Suhu, Puluhan Orang Tewas
Teheran juga mengancam akan menghentikan total perundingan untuk mengakhiri perang jika Washington terus melanjutkan serangannya.
Ketegangan di kawasan Teluk kembali memanas setelah upaya membuka kembali Selat Hormuz tanpa pengawasan langsung Iran.
Serangan ke Negara Teluk yang Jadi Basis Militer AS
Militer Kuwait mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat drone dan rudal Iran pada Minggu pagi, tak lama setelah serangan AS.
Kuwait, yang menjadi tuan rumah pangkalan militer utama AS, mendeteksi dan mencegat dua rudal balistik tanpa menimbulkan korban jiwa atau kerusakan.
Kementerian Dalam Negeri Bahrain melaporkan bahwa serangan Iran merusak sebuah bangunan tempat tinggal di dekat bandara internasional. Tidak ada korban tewas dalam insiden tersebut.
Foto yang dirilis menunjukkan gedung delapan lantai dengan lantai teratas hancur total, dipenuhi puing-puing, dan jendela-jendelanya pecah.
Bahrain merupakan markas Armada Kelima Angkatan Laut AS, yang pangkalan militernya kerap menjadi sasaran serangan selama perang.
Namun, bangunan yang rusak pada Minggu tidak berada di dekat markas armada tersebut, melainkan di pusat kota Manama.
Kementerian Luar Negeri Bahrain mengeluarkan pernyataan yang mengecam serangan itu sebagai eskalasi berbahaya.
Mereka menegaskan bahwa tindakan Teheran bukanlah insiden terisolasi, melainkan pola agresi berulang yang disengaja terhadap kedaulatan kerajaan dan keamanan warga negaranya.
Trump Tuduh Iran Langgar Gencatan Senjata
Serangan ini terjadi setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan selama akhir pekan.