Sejak menjabat Sekretaris Jenderal NATO hampir dua tahun lalu, Mark Rutte menghabiskan banyak waktu untuk menjaga Amerika Serikat tetap berada di aliansi militer terbesar dunia.
Ia menggunakan sanjungan terbuka untuk membujuk Presiden AS Donald Trump agar tidak bertindak atas ancaman meninggalkan NATO.
>>> China dan Rusia Gelar Latihan Angkatan Laut di Qingdao Juli 2026
Namun, sasaran terus bergeser menjelang KTT pekan ini di Turki.
Dari Pembagian Beban ke Tuntutan Loyalitas
Awalnya, masalahnya adalah uang. Trump telah lama mengkritik sekutu NATO karena hanya mengeluarkan sebagian kecil dari anggaran nasional mereka untuk pertahanan.
Masalah itu diatasi pada KTT tahun lalu ketika sekutu AS berkomitmen untuk berinvestasi sebanyak Amerika dalam hal produk domestik bruto.
Masalah nyata NATO kini adalah mengubah uang itu menjadi kemampuan militer, terutama karena negara-negara Eropa khawatir akan kemungkinan serangan dari Rusia.
Rutte mencoba meredakan kekhawatiran dalam pertemuan di Gedung Putih bulan lalu dengan grafik berlabel "The Trump Trillion" yang menunjukkan pengeluaran $1,2 triliun oleh sekutu Eropa dan Kanada sejak 2017.
Trump tampak tidak terpengaruh.
Ia mengatakan masih kecewa karena beberapa sekutu NATO menolak bergabung dalam perang Iran yang ia luncurkan bersama Israel tanpa berkonsultasi dengan mereka.
"Kami tidak butuh uang mereka — kami tidak butuh apa pun," kata Trump. "Saya hanya ingin loyalitas."
Trump mengisyaratkan mungkin akan melewatkan KTT sama sekali jika tidak menjadi tuan rumah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
Upaya Mempertahankan AS di NATO
Tugas utama pejabat sipil tertinggi NATO — selalu orang Eropa, bukan Amerika — adalah mendorong konsensus dalam organisasi yang mengambil keputusan secara bulat dan berbicara atas nama 32 negara anggota.
