unique visitors counter
⌂ Beranda News Menteri Iran dan Oman Bahas Selat Hormuz di Tengah Ancaman Trump

Menteri Iran dan Oman Bahas Selat Hormuz di Tengah Ancaman Trump

Menteri Iran dan Oman Bahas Selat Hormuz di Tengah Ancaman Trump
Ilustrasi: Menteri Iran dan Oman Bahas Selat Hormuz di Tengah Ancaman Trump
A A Ukuran Teks16px

Menteri Luar Negeri Iran dan Oman bertemu pada Sabtu (12/7) untuk membahas status Selat Hormuz, setelah beberapa hari terjadi serangan Iran terhadap kapal-kapal dan pembalasan AS yang mengguncang kesepakatan gencatan senjata.

Pertemuan di Oman itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Teheran dan Washington.

>>> Daftar 6 HP Infinix 1 Jutaan Terbaik Juli 2026

Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, dalam pernyataan pertamanya sejak pemakaman ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, bersumpah akan membalas kematian sang ayah dalam serangan pembuka perang pada 28 Februari.

“Balas dendam adalah kehendak bangsa kami dan pasti harus dilaksanakan,” kata Khamenei dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah, beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan lebih banyak serangan rudal.

Pembicaraan Teknis dan Politik

Oman menyatakan pihaknya dan Iran sepakat untuk terus membahas jalur air penting itu “di tingkat teknis dan politik.”

in2

Hal ini sehari setelah AS meminta Iran secara terbuka menyatakan bahwa jalur air tersebut terbuka dan kapal-kapal tidak akan diserang.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan ia bertemu dengan mitranya dari Oman untuk membahas “mekanisme yang tepat untuk memastikan keselamatan lalu lintas kapal.”

Selama beberapa dekade, dunia menganggap selat itu sebagai jalur air internasional.

Namun Iran bersikeras bahwa selat tersebut kini berada di bawah kendalinya dan diizinkan untuk memungut biaya dari kapal yang melintas, sebuah sikap yang diambil setelah perang dimulai.

AS mendorong para pelaut untuk transit melalui jalur selatan di perairan teritorial Oman. Sekitar seperlima dari seluruh perdagangan minyak dan gas bumi melewati selat itu sebelum perang dimulai.

Cengkeraman Iran atas selat itu selama perang menyebabkan krisis energi global, meskipun harga minyak telah turun tajam dari puncak masa perang sebesar $120 per barel.

M
Tim Redaksi
Penulis: Maria Renata
📰 Update Terbaru
stikibot