Menteri Luar Negeri Iran dan Oman bertemu pada Sabtu (12/7) untuk membahas status Selat Hormuz, setelah beberapa hari terjadi serangan Iran terhadap kapal-kapal dan pembalasan AS yang mengguncang kesepakatan gencatan senjata.
Pertemuan di Oman itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Teheran dan Washington.
Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, dalam pernyataan pertamanya sejak pemakaman ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, bersumpah akan membalas kematian sang ayah dalam serangan pembuka perang pada 28 Februari.
“Balas dendam adalah kehendak bangsa kami dan pasti harus dilaksanakan,” kata Khamenei dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah, beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan lebih banyak serangan rudal.
Pembicaraan Teknis dan Politik
Oman menyatakan pihaknya dan Iran sepakat untuk terus membahas jalur air penting itu “di tingkat teknis dan politik.”
Hal ini sehari setelah AS meminta Iran secara terbuka menyatakan bahwa jalur air tersebut terbuka dan kapal-kapal tidak akan diserang.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan ia bertemu dengan mitranya dari Oman untuk membahas “mekanisme yang tepat untuk memastikan keselamatan lalu lintas kapal.”
Selama beberapa dekade, dunia menganggap selat itu sebagai jalur air internasional.
Namun Iran bersikeras bahwa selat tersebut kini berada di bawah kendalinya dan diizinkan untuk memungut biaya dari kapal yang melintas, sebuah sikap yang diambil setelah perang dimulai.
AS mendorong para pelaut untuk transit melalui jalur selatan di perairan teritorial Oman. Sekitar seperlima dari seluruh perdagangan minyak dan gas bumi melewati selat itu sebelum perang dimulai.
Cengkeraman Iran atas selat itu selama perang menyebabkan krisis energi global, meskipun harga minyak telah turun tajam dari puncak masa perang sebesar $120 per barel.
Tudingan Pelanggaran Kesepakatan
Araghchi juga menuduh AS melanggar kesepakatan sementara dengan mengakhiri pengecualian yang memungkinkan Iran menjual minyak mentah di pasar terbuka dengan dolar AS.
Washington mengakhiri pengecualian itu sebagai respons atas serangan terhadap kapal-kapal di selat tersebut.
“Reality check: Hanya ada kepatuhan bersama,” tulis Araghchi di X.
Ancaman Trump dan Serangan Balasan
Trump menulis di media sosial bahwa “seribu rudal sudah siap dan diarahkan ke Republik Islam Iran, dengan ribuan lagi akan segera menyusul, jika pemerintah Iran bertindak berdasarkan ancamannya.”
Ia mengatakan merespons ancaman “untuk membunuh, atau mencoba membunuh” dirinya.
Saat pemakaman Khamenei, para pelayat membawa poster atau spanduk yang menyerukan agar Trump dibunuh bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Trump telah menyatakan gencatan senjata berakhir tetapi mengatakan AS akan melanjutkan negosiasi.
Pejabat AS, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan bahwa dimulainya kembali serangan dalam beberapa hari terakhir terjadi setelah apa yang mereka sebut sebagai faksi garis keras Iran yang nakal mencoba menyabotase gencatan senjata.
Iran bersikeras bahwa teokrasinya bersatu di bawah pemimpin tertinggi yang baru.
Setelah AS menyelesaikan serangan terbarunya pada Kamis, serangan lebih lanjut dilaporkan menghantam Iran, menimbulkan pertanyaan tentang siapa lagi yang mungkin menargetkan Republik Islam itu.
Israel tidak mengklaim serangan itu, yang berarti negara-negara Teluk Arab mungkin yang melancarkannya, kemungkinan sebagai cara untuk mencegah Iran menyerang mereka lagi.
Iran pada Kamis membalas serangan AS dengan menargetkan Bahrain, Yordania, Kuwait, dan Qatar.
Serangan di Iran selama dua hari menewaskan sedikitnya 17 orang dan melukai 115 lainnya, kata juru bicara Kementerian Kesehatan Iran Hossein Kermanpour.