Pemerintah Korea Selatan melalui Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata serta Dewan Film Korea baru-baru ini menandatangani perjanjian dengan perusahaan produksi dan agensi talenta untuk membatasi gaji aktor.
Perjanjian ini berlaku untuk film mid-budget bersubsidi pemerintah dengan biaya produksi bersih antara 2 miliar won (sekitar Rp 23,5 miliar) hingga 8 miliar won.
>>> Korea Luncurkan Festival Musik Global Besar-besaran pada 2027
Dalam kesepakatan tersebut, gaji aktor didorong tidak melebihi 10 persen dari total biaya produksi. Namun, pemerintah menegaskan bahwa langkah ini bersifat sukarela, bukan aturan yang mengikat.
Untuk mencegah inisiatif ini hanya bersifat sementara, pemerintah juga berencana membentuk badan konsultatif guna membahas perbaikan kondisi produksi di industri film.
Acara penandatanganan dihadiri perwakilan agensi besar seperti BH Entertainment, Management SOOP, dan J-Wide Company, serta pejabat dari Asosiasi Produser Film Korea dan Producers Guild of Korea.
Kekhawatiran Pelaku Industri
Meskipun tujuannya baik, pelaku industri menyambut rencana ini dengan sikap hati-hati.
Mereka menilai bahwa masalah gaji aktor yang membengkak lebih banyak terjadi pada film komersial beranggaran besar di atas 10 miliar won dan serial streaming skala besar.
Seorang pejabat agensi manajemen mengatakan bahwa perjanjian ini memang bermakna, tetapi karena proyek yang paling bermasalah berada di luar cakupannya, langkah ini saja tidak akan banyak mengubah struktur gaji secara keseluruhan.
>>> 'Agent Kim Reactivated' Raih Rating Tertinggi Kedua dalam Sejarah SBS
Bahkan jika batasan gaji diterapkan, film mid-budget masih menghadapi tantangan tersendiri. Film-film ini memiliki anggaran pemasaran lebih kecil dan sering mengandalkan daya tarik aktor bintang.
Tidak ada jaminan bahwa aktor ternama akan bersedia berpartisipasi jika gaji mereka dibatasi.
Karena gaji aktor ditentukan oleh pasar, mereka mungkin akan menghindari proyek yang menawarkan bayaran jauh di bawah tarif biasanya.
Beberapa pihak memperingatkan bahwa jika aktor laris tidak terlibat, film mid-budget bisa kehilangan kemampuan menarik investasi dan bersaing dalam pemasaran.
Menyesuaikan gaji aktor saja tidak cukup untuk mengatasi masalah industri yang lebih luas. Upaya ini harus dibarengi dengan stimulasi investasi, dukungan distribusi, dan reformasi struktur distribusi teater.
Seorang pejabat perusahaan distribusi film menekankan bahwa diskusi tidak boleh hanya fokus pada penurunan gaji aktor.
>>> Film 'The Journey to Gyeong-ju' Angkat Kisah Balas Dendam Keluarga
Perlu diciptakan kondisi yang secara alami mendorong aktor berbakat untuk ambil bagian dalam film mid-budget.
