Kepergian pelukis Nasirun menyisakan duka mendalam bagi sahabat dan pelaku seni.
Ia bukan hanya maestro seni rupa Indonesia, tetapi juga sosok yang memilih hidup sederhana tanpa bergantung pada telepon genggam.
Meski tanpa gawai, pengaruh dan relevansi karya-karyanya tidak pernah pudar. Banyak pihak mengenangnya sebagai pribadi yang rendah hati, ringan tangan, dan selalu hadir membantu sesama.
Hidup Tanpa Gawai, Karya Tetap Kontekstual
Musisi Marzuki Mohamad atau Kill the DJ, pendiri Jogja Hip Hop Foundation, mengenang Nasirun sebagai teman dan guru yang akrab.
Ia menyoroti kebiasaan Nasirun yang tidak mau terikat pada handphone.
"Pak Nasirun nggak mau terpenjara dengan hal semacam itu.
Dan karya-karyanya pun tetap kontekstual, meskipun dia tidak terpenjara dengan tuntutan algoritma sosial media," kata Marzuki di rumah duka, Sabtu (1/8).
Menurut Marzuki, di tengah banyak seniman yang mengejar viralitas, Nasirun justru membuktikan karya besar lahir dari kebebasan berekspresi, bukan tekanan tren digital.
Aura Kebebasan dan Kemurahan Hati
Sastrawan Gabriel Possenti Sindhunata atau Romo Sindhu mengaku masih sulit mempercayai kepergian Nasirun.
Ia menilai Nasirun adalah orang bebas yang tidak mau terikat oleh apa pun, termasuk kemajuan dan fasilitas.
"Dia memang orang bebas ya, tidak mau terikat oleh apapun, menandakan dia tidak tergantung apapun, juga dengan kemajuan, fasilitas.
Menghayati kreatifitasnya dengan sendirinya," ujar Romo Sindhu.
Romo Sindhu menambahkan, tanpa perangkat digital, Nasirun tetap dekat dengan banyak orang. Ia menjadi tempat bernaung para seniman dan memancarkan kebaikan melalui karya serta kepribadiannya.
"Sehingga tanpa HP pun orang selalu dekat padanya, karena banyak yang dia tolong karena dia menampung banyak karya-karya seni.
Dan kemurahan hatinya ini juga luar biasa," katanya.
Ia juga menilai jasa Nasirun besar dalam memperkenalkan seni rupa Indonesia ke tingkat internasional dengan karakter kuat yang berakar pada budaya lokal.
Seniman Tanpa Sekat
Perupa kontemporer Jumaldi Alfi Chaniago, tetangga sekaligus rekan sesama seniman, mengenang Nasirun sebagai pribadi yang setara. Ia tidak membedakan status atau pencapaian dalam dunia seni.
"Dengan seniman-seniman muda Jogja sangat perhatian. Dia tidak membedakan antar seniman.
Makanya kadang-kadang kan saya bercanda sama dia, 'Sosok kayak kamu itu udah pameran internasional di mana-mana, tapi pameran RT antar gang aja dia tetap mau'.
Tetap datang," katanya.
Dosen FSRD ISI Yogyakarta, Mikke Susanto, juga menyampaikan kesan mendalam. Baginya, Nasirun adalah sosok yang membuatnya percaya diri menekuni dunia seni sebagai jalan hidup.
"Saya mengenal Nasirun sebagai orang yang secara singkat adalah orang yang mampu membuat saya percaya diri hidup di dunia kesenian," ujar Mikke.
Nasirun wafat pada Sabtu (1/8) pagi sekitar pukul 05.00 WIB.
Sebelumnya, ia sempat mengeluhkan sesak napas yang kian parah dan dilarikan ke RS AMC Muhammadiyah Kota Yogyakarta.
Jenazahnya rencananya dimakamkan di Taman Makam Seniman dan Budayawan Giri Sapto, Imogiri, Bantul, siang itu juga.
Nasirun dikenal sebagai perupa dengan karya ekspresif yang memadukan simbol, kaligrafi, dan unsur budaya Jawa. Lahir di Cilacap pada 1965, ia menempuh pendidikan di ISI Yogyakarta.
Sepanjang kariernya, karya-karyanya telah dipamerkan di berbagai ajang seni, baik tunggal maupun bersama, di dalam dan luar negeri.
Ia juga membangun relasi luas dengan seniman, budayawan, kolektor, hingga tokoh politik.