unique visitors counter
⌂ Beranda Lifestyle Retrospektif Lee Dai-won di MMCA: Melampaui Label 'Pelukis Paling Bahagia'

Retrospektif Lee Dai-won di MMCA: Melampaui Label 'Pelukis Paling Bahagia'

Retrospektif Lee Dai-won di MMCA: Melampaui Label 'Pelukis Paling Bahagia'
Ilustrasi: Retrospektif Lee Dai-won di MMCA: Melampaui Label 'Pelukis Paling Bahagia'
A A Ukuran Teks16px

Museum Nasional Seni Modern dan Kontemporer Korea (MMCA) mengajak pengunjung untuk melihat lebih dari sekadar label 'pelukis paling bahagia di dunia' melalui retrospektif besar karya Lee Dai-won (1921-2005) di MMCA Deoksugung.

Pameran bertajuk 'Lee Dai-won: Nothing Here Makes You Sad' ini merupakan survei museum skala besar pertama atas karya seniman tersebut.

>>> K-Food Jadi Oleh-Oleh Favorit Turis Asing di Korea

Pameran ini menampilkan 122 lukisan dan sekitar 100 barang arsip, bersama dengan barang antik dan benda lain yang membentuk bahasa visual Lee.

Menelusuri 70 Tahun Perjalanan Artistik

Disusun dalam empat bagian kronologis, pameran ini menelusuri sekitar 70 tahun praktik Lee, dari lukisan still life tahun 1933 yang dibuat pada usia 12 tahun hingga lanskap monumental yang membentang hingga tujuh meter.

Judul pameran diambil dari pengamatan sahabat dekat Lee, sejarawan seni Kim Won-ryong, yang pernah menulis bahwa lukisan Lee mengandung 'tidak ada yang membuat seseorang sedih'.

Kurator MMCA Bae Won-jung mengatakan ia memilih kalimat itu karena 'paling jelas dan jujur merangkum dunia yang dibangun lukisannya — bukan karena hidupnya tanpa penderitaan, tetapi karena ia bersikeras mengubah penderitaan itu menjadi warna dan cahaya'.

Melampaui 'Pelukis Paling Bahagia'

Lee, yang meninggal pada 2005, selama ini dikenang publik sebagai pelukis lanskap ceria dengan kebun buah dan gunung yang bersinar, dijuluki 'penyihir warna' dan 'pelukis paling bahagia di dunia'.

Bae menekankan bahwa pameran ini bertujuan untuk membongkar anggapan bahwa palet cerah Lee hanyalah ekspresi temperamen belaka.

'Di balik kebahagiaan itu ada eksperimen formal yang sangat ketat dan seumur hidup,' katanya saat pratinjau pers, Rabu.

'Ia menyelesaikan narasinya sendiri bukan melalui episode biografis yang dramatis, melainkan melalui perubahan dan pencapaian dalam lukisan itu sendiri.'

E
Tim Redaksi
Penulis: Eko Yulianto
📰 Update Terbaru
stikibot