Pameran ini menunjukkan bagaimana Lee, yang belajar hukum dan bekerja di bisnis sebelum beralih ke seni penuh waktu, membawa kenangan wajib militer masa perang, kehilangan keluarga, dan tanggung jawab kelembagaan sebagai dekan dan presiden universitas.
'Tidak ada seniman tanpa kesulitan atau kesepian,' kata Bae.
'Yang membuat Lee tidak biasa adalah bahwa, minggu demi minggu, ia pergi ke pertaniannya di Paju, duduk dengan musim, dan mengubah kehidupan yang rumit itu menjadi ladang warna, bukan tragedi.'
Warna, Kerajinan, dan Modernitas Korea
Alih-alih mengejar tren seni Barat, Lee menerjemahkan permukaan dan cahaya kerajinan tradisional Korea seperti sulaman, tatahan ibu mutiara, dan lukisan tinta Korea ke dalam bahasa lukisan minyak.
>>> Dari Sup Babi hingga Camilan Viral: Makanan Korea yang Wajib Dicoba
Bae menunjukkan bahwa goresan titik dan garis khas Lee meminjam dari cara benang berwarna berdampingan dalam sulaman: 'Saat Anda melihat dari dekat, warna merah dan hijaunya tidak menyatu menjadi lumpur.
Seperti benang, mereka tetap berbeda, bergetar di samping satu sama lain.'
Titik-titik yang mengelompok dan bidang warna yang berkilau dari Lee secara langsung menggambar pada logika permukaan tatahan ibu mutiara tradisional sehingga rona individu menangkap dan memantulkan cahaya tanpa pernah menyatu, jelas Bae.
Pameran ini juga menyoroti perannya sebagai intelektual publik.
Ia mendirikan dan mengelola Galeri Bando, yang dianggap sebagai galeri komersial berkelanjutan pertama di Korea; memperkenalkan seniman Korea ke panggung global; memimpin Sekolah Tinggi Seni Rupa Universitas Hongik; dan menerjemahkan teks-teks kunci tentang estetika Korea, sambil juga menjabat sebagai presiden Akademi Seni Nasional dan sebagai duta budaya untuk Kementerian Luar Negeri.
