Ekonom menyoroti defisit neraca perdagangan barang Indonesia yang terjadi dua bulan berturut-turut.
Kondisi ini dinilai sebagai sinyal peringatan karena Indonesia masih menghadapi persoalan struktural, yaitu ketergantungan pada impor energi.
>>> 8 Misteri yang Belum Terjawab di Ending Agent Kim Reactivated
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan barang Indonesia defisit US$450 juta pada Juni 2026.
Sebelumnya, pada Mei 2026, neraca perdagangan juga mencatat defisit US$1,61 miliar, yang merupakan defisit pertama setelah surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Pada April 2026, neraca dagang Indonesia masih mencatat surplus US$89,1 juta. Namun, tekanan dari defisit migas yang membengkak menjadi penyebab utama memburuknya kinerja neraca dagang.
>>> Kaki-Kaki Mobil Listrik vs Mobil Biasa, Mana Lebih Awet?
Defisit Migas dan Kenaikan Harga Minyak
Ekonom Centre of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengungkapkan defisit migas mencapai sekitar US$3,49 miliar.
Kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik dan meningkatnya kebutuhan impor minyak mentah serta hasil minyak di dalam negeri membuat laju impor lebih cepat daripada pertumbuhan ekspor.
>>> Link Live Streaming Persib vs Persija Semifinal Piala Presiden 2026, Kick-off 15.30 WIB
Impor meningkat lebih dari 34 persen, sementara ekspor hanya tumbuh sekitar 9 persen. Akibatnya, surplus nonmigas yang masih kuat tidak cukup untuk mengompensasi defisit energi.

