unique visitors counter
⌂ Beranda Lifestyle 19 Tahun Incheon Mengubah Stepa Mongolia dari Gurun menjadi Hutan

19 Tahun Incheon Mengubah Stepa Mongolia dari Gurun menjadi Hutan

19 Tahun Incheon Mengubah Stepa Mongolia dari Gurun menjadi Hutan
19 Tahun Incheon Mengubah Stepa Mongolia dari Gurun menjadi Hutan
A A Ukuran Teks16px

Hampir dua dekade lalu, warga Incheon, kota pelabuhan industri di pantai barat Korea, mulai lelah dengan badai debu kuning beracun yang datang setiap musim semi dari Gurun Gobi.

Alih-alih hanya mengeluarkan peringatan kualitas udara, kelompok masyarakat setempat memutuskan untuk menelusuri akar polusi lintas batas hingga ratusan mil jauhnya.

>>> Pameran Hanbok Terbesar di Korea Padukan Mode Modern dan Kerajinan 120 Tahun

Pada 2008, warga mengumpulkan dana 335 juta won (sekitar $250.000) untuk menanam bibit di stepa Mongolia yang terdegradasi parah.

Apa yang dimulai sebagai kampanye penggalangan dana akar rumput kini telah berkembang menjadi salah satu kemitraan lingkungan transnasional paling ambisius di Asia Timur.

Pejabat Incheon mengumumkan Selasa bahwa inisiatif 'Incheon Forest of Hope' akan dipresentasikan sebagai tolok ukur global untuk aksi iklim kota di Konferensi Para Pihak ke-17 Konvensi PBB untuk Memerangi Desertifikasi (UNCCD).

Transformasi Lahan dan Infrastruktur Pendukung

Selama 19 tahun terakhir, inisiatif ini telah mengubah 157 hektare lahan tandus menjadi sabuk hijau yang subur, setara dengan 220 lapangan sepak bola.

Lebih dari 250.000 pohon tahan kekeringan seperti pinus Skotlandia, larch Siberia, dan elm telah ditanam di wilayah tersebut, termasuk di Bayannuur, Dashinchilen, dan Songino Khairkhan.

Kunci keberhasilan proyek ini terletak pada infrastruktur yang dirancang untuk kelangsungan hidup tanaman dalam jangka panjang.

Incheon memperoleh hak guna lahan selama 15 tahun dari Ulaanbaatar, membangun pembibitan lokal, menggali sumur, dan memasang pagar pelindung untuk mencegah ternak merumput di bibit muda.

>>> Pameran Incheon Telusuri 6.000 Tahun Sejarah Yunani Berbasis Kekuatan Maritim

Hasilnya, tingkat kelangsungan hidup bibit sangat tinggi, mencapai 78 persen, dan pohon-pohon tersebut diperkirakan telah menyerap lebih dari 1.600 ton karbon dioksida hingga saat ini.

E
Tim Redaksi
Penulis: Eko Yulianto
📰 Update Terbaru
stikibot