unique visitors counter
⌂ Beranda › Lifestyle › Menguji Akurasi AI dalam Tur Sejarah Seoul: Akurat atau Menyesatkan?
Lifestyle

Menguji Akurasi AI dalam Tur Sejarah Seoul: Akurat atau Menyesatkan?

Seokjojeon di Deoksu Palace, Seoul
Menguji Akurasi AI dalam Tur Sejarah Seoul: Akurat atau Menyesatkan?
A A Ukuran Teks16px

Kecerdasan buatan (AI) semakin sering digunakan untuk merencanakan perjalanan, termasuk mencari tiket murah atau akomodasi terjangkau. Namun, seberapa akurat AI dalam menyusun tur sejarah yang mendalam?

The Korea Times menguji rekomendasi Google Gemini untuk tur sejarah satu hari di Seoul dengan biaya sekitar 200.000 won.

Tujuannya: menilai apakah AI mampu menangkap nuansa sejarah lokal atau hanya merangkai informasi dari internet tanpa pemahaman mendalam.

Pagi di Deoksu Palace: Rekomendasi Akurat

Gemini dengan tepat menjelaskan bahwa Seokjojeon adalah simbol ambisi Kaisar Gojong untuk memodernisasi Kekaisaran Korea, meski kemudian diikuti oleh hilangnya kemerdekaan di bawah penjajahan Jepang.

Dengan reservasi, pengunjung bisa mengikuti tur gratis ke bekas kediaman kekaisaran. Di dalamnya, terdapat furnitur asli yang sebagian besar bergaya Eropa, memberikan gambaran kehidupan sehari-hari keluarga kerajaan.

Makan Siang di Gwanghwamun: Sejarah yang Keliru

AI merekomendasikan Gwanghwamun Gukbap untuk makan siang, menyebutnya sebagai cita rasa makanan jalanan awal abad ke-20. Restoran ini memang populer dan masuk Michelin Guide Bib Gourmand.

Namun, alasan historis yang diberikan AI adalah fiksi. Dwaeji gukbap baru populer setelah Perang Korea 1950-1953, dibawa oleh para pengungsi.

Pada awal abad ke-20, warga Seoul lebih akrab dengan seolleongtang, seperti di restoran tertua Inmun Seolnongtang yang berdiri sejak 1904.

Jalan-jalan di Jeongdong-gil: Realita yang Berbeda

AI menyarankan menyewa pakaian retro dan berjalan di Jeongdong-gil, jalan dengan bangunan bata merah dari akhir abad ke-19.

Namun, setelah mendatangi lima alamat yang diberikan, hampir semua toko penyewaan kostum khusus telah tutup.

Meskipun Google dan Naver masih menandai toko-toko tersebut sebagai buka, kenyataannya banyak yang sudah berganti usaha.

Tren mengenakan gaun renda dan setelan kotak-kotak ala awal 1900-an menurun drastis pasca-pandemi.

Ini menjadi pelajaran penting: AI sering kali salah mengira popularitas media sosial masa lalu sebagai realitas saat ini.

Museum Appenzeller Noble Memorial: Akurat dan Bermakna

Lanjut ke Jeongdong-gil, AI merekomendasikan Appenzeller Noble Memorial Museum.

Museum ini berada di bekas East Hall Paichai Hakdang, sekolah swasta modern pertama di Korea yang didirikan pada 1885 oleh misionaris Amerika Henry Gerhart Appenzeller.

Sekolah ini menjadi pusat pencerahan publik, menerbitkan surat kabar swasta pertama Korea, Dongnip Shinmun, dan melahirkan tokoh-tokoh penting seperti presiden pertama Syngman Rhee dan aktivis kemerdekaan Seo Jae-pil.

Di dalam museum, pengunjung dapat melihat ruang kelas abad ke-19 yang direkonstruksi, buku harian Appenzeller, dan salah satu piano besar pertama yang dibawa ke Korea.

Tempat ini menjadi pengingat akan peran pentingnya dalam pendidikan modern dan kebebasan berekspresi.

Kopi di Coffee Hanyakbang: Sejarah yang Dikemas Ulang

AI merekomendasikan Coffee Hanyakbang di Euljiro, sebuah kafe tersembunyi di gang sempit.

Gemini menyebut kafe ini berada di situs Hyeminseo, institusi medis era Joseon tempat tabib legendaris Heo Jun merawat rakyat biasa.

Meskipun kafe ini memang menempati lokasi bersejarah, Hyeminseo dihapuskan pada 1882.

Ruang kafe sendiri tidak mempertahankan sejarah akhir abad ke-19, melainkan menafsirkan ulang arsitektur gang pertengahan hingga akhir abad ke-20 dengan gaya 'new retro'.

Meski demikian, Coffee Hanyakbang tetap menjadi kafe yang menarik dengan interior unik dan kopi filter yang nikmat.

Pengunjung seperti Shary Werb, pustakawan asal AS, mengaku mengetahui kafe ini dari Atlas Obscura dan sangat menikmati suasana serta sejarah medisnya.

Penjara Seodaemun: Kurang Mendalam untuk Wisatawan Asing

Perhentian terakhir adalah Penjara Seodaemun, tempat para aktivis kemerdekaan ditahan dan disiksa selama pendudukan Jepang. Tempat ini penting untuk memahami pengorbanan para pejuang kemerdekaan.

Namun, uji coba di lokasi menunjukkan kekurangan signifikan.

Ruang interogasi bawah tanah dengan pencahayaan redup, efek suara, dan manekin realistis bisa sangat menakutkan bagi pengunjung muda.

Keluarga dengan anak-anak disarankan berhati-hati.

Selain itu, terjemahan bahasa Inggris di museum sangat ringkas dibandingkan penjelasan dalam bahasa Korea.

Contohnya, surat tulisan tangan aktivis kemerdekaan hanya diberi label 'Letter' dalam bahasa Inggris, tanpa konteks emosional yang mendalam.

Audio guide berbasis smartphone juga tidak banyak membantu karena hanya mengulang teks singkat di dinding.

Informasi yang diberikan kurang bernuansa untuk membantu pengunjung asing memahami bobot sejarah tempat ini.

Kesimpulannya, AI dapat membantu merencanakan perjalanan dengan efisien, tetapi belum mampu menggantikan pemahaman mendalam tentang sejarah dan realitas lokal.

Wisatawan disarankan untuk memverifikasi rekomendasi AI dengan sumber terpercaya dan tetap fleksibel di lapangan.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru