unique visitors counter
⌂ Beranda › Lifestyle › Mengenal Budaya Yajang Korea: Panduan Makan di Luar Ruangan di Seoul
Lifestyle

Mengenal Budaya Yajang Korea: Panduan Makan di Luar Ruangan di Seoul

Suasana makan dan minum di luar ruangan atau yajang di gang Jongno, Seoul
Mengenal Budaya Yajang Korea: Panduan Makan di Luar Ruangan di Seoul
A A Ukuran Teks16px

Warga Korea punya ungkapan bercanda yang muncul setiap kali udara sejuk dan berangin datang: tidak pergi yajang saat cuaca seperti ini hampir seperti sebuah kejahatan.

Ungkapan itu menggambarkan kebiasaan bertukar ruang makan dalam ruangan dengan kursi plastik, panggangan yang mendesis, dan obrolan di jalanan yang hidup.

Pada Senin pukul 19.00 di kawasan Jongno 3-ga, Seoul, suasana itu tampak menjadi kenyataan.

Meja plastik merah dan biru didirikan di gang-gang sempit, tempat mahasiswa, pekerja kantor yang masih berkemeja, pasangan, dan pesohor senior duduk berdempetan.

Mereka memanggang irisan tebal samgyeopsal sambil mengadu gelas bir, soju, dan makgeolli di udara awal musim gugur.

Restoran dan bar di sekitarnya menawarkan pencahayaan hangat, furnitur pilihan, dan interior rapi.

Namun justru meja-meja sederhana di luar, di depan toko tua dan jalan yang tampak tak berubah selama puluhan tahun, yang menarik antrean terpanjang.

Apa Itu Yajang

Yajang adalah singkatan dari ruang usaha luar ruangan.

Dalam bahasa Korea sehari-hari, istilah ini merujuk pada makan dan minum kasual di luar ruangan.

Cakupannya luas, mulai dari beberapa meja di depan restoran, gang barbekyu yang ramai, hingga halaman rumah tradisional Korea atau hanok.

Bagi banyak warga lokal, yajang membangkitkan gambaran makanan dan minuman murah yang disantap sambil duduk di bangku plastik di gang samping kawasan pusat kota lama seperti Euljiro dan Jongno.

Lee Soo-yeon, pembuat roti berusia 33 tahun asal Seoul, mengatakan pesona sebenarnya yajang adalah bisa makan dan minum bebas dalam suasana hidup sambil menghirup udara segar.

Ia mengunjungi tempat makan luar ruangan setidaknya sekali sebulan, kadang dua kali seminggu.

Menurut Lee, aktivitas biasa seperti makan, membaca, bermain, atau sekadar berbaring terasa lebih bebas dan menyenangkan saat dilakukan di luar.

Ia juga senang melihat orang lain bersenang-senang, dan minuman dingin dalam jumlah kecil membantu membangun suasana.

Menu Klasik dan Daya Tarik Musiman

Makanan adalah bagian penting dari yajang.

Di Jongno dan Euljiro, samgyeopsal yang dipanggang dengan kimchi termasuk pilihan klasik, bersama ayam goreng, ikan bakar, dan usus sapi tumis pedas.

Cho Hyun-soo, pekerja kantor berusia 34 tahun di Seoul, menilai persiapan yang paling praktis bukan soal kuliner.

Ia menyarankan untuk memeriksa ramalan cuaca sebelum berangkat.

Menurut Cho, selama tidak hujan, menu apa pun menyenangkan untuk disantap saat yajang.

Cho menyukai acara musiman bersama teman, terutama pada musim semi, musim panas, dan awal musim gugur.

Daya tariknya terletak pada kesan musim yang hidup, sehingga pengunjung bisa memilih latar dan pemandangan favorit, entah itu bunga musim semi, cahaya musim panas yang bertahan lama, atau udara musim gugur yang segar sebagai bagian dari hidangan.

Bagi An Yeon-woo, 21 tahun, suasana kasual itu menciptakan atmosfer hangat dan sedikit kasar yang sulit ditiru restoran rapi.

Ia menuturkan, berbagi minuman ringan dengan orang yang datang bersamanya dan membicarakan hal-hal kecil sehari-hari adalah bagian besar dari pesonanya.

Tips untuk Pendatang Baru

Bagi pemula, warga lokal menyarankan sikap fleksibel.

Area populer bisa memiliki antrean panjang, terutama pada Jumat dan Sabtu malam saat cuaca bagus.

An mengatakan waktu cepat berlalu di Jongno atau Euljiro, tempat bangunan tua, gang berkelok, dan toko kecil membuat jalan-jalan sambil menunggu kursi jadi menyenangkan.

Ia menyarankan untuk mengambil foto dan melihat-lihat gang tua.

Di tempat seperti Euljiro atau Jongno, waktu yang dihabiskan untuk berjalan bisa menjadi bagian dari pengalaman.

Pengunjung juga sebaiknya menjaga ekspektasi tetap realistis.

Tempat duduk luar ruangan bisa berisik, sempit, dan bergantung pada cuaca, serta tidak menawarkan kenyamanan bersih seperti restoran formal.

Namun menurut warga lokal, ketidakformalan itulah intinya.

Mereka yang belum tahu harus mulai dari mana bisa menggunakan Yajang Map, layanan daring yang mendaftar tempat makan luar ruangan dan jajanan jalanan terdekat.

Layanan yang diluncurkan pada musim semi lalu itu berkembang melalui kiriman pengguna dan memungkinkan pencarian berdasarkan jenis latar dan gaya.

Yajang juga menarik perhatian resmi.

Pemerintah Metropolitan Seoul berencana mendukung 10 distrik Moonlight Yajang sebagai bagian dari strategi yang lebih luas.

Strategi itu menggabungkan operasi luar ruangan yang diatur dengan langkah untuk meningkatkan keselamatan pejalan kaki dan sanitasi sekaligus mengurangi kebisingan.

Kota ini berencana memperluasnya menjadi 25 area pada 2028, menghubungkan jalan makanan lokal dengan pariwisata dan program budaya.

Toko kelontong juga menjadi bagian dari budaya ini, sering menempatkan area duduk kecil di luar toko tempat orang bisa menikmati mi instan dan bir.

Meski begitu, warga lokal mengatakan cara terbaik menikmati yajang adalah tidak merencanakannya secara berlebihan.

Berjalanlah melalui Jongno atau Euljiro pada malam yang menyenangkan, cari meja kosong, lalu duduk.

An menuturkan, pengunjung bisa merasakan sisi Korea yang lebih sehari-hari.

Menurutnya, pengalaman itu berbeda dari mengunjungi tempat wisata terkenal karena memperlihatkan bagaimana orang setempat menikmati malam biasa dengan makanan enak, minuman, dan orang-orang di sekitar.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru