Buku 'Ties That Bind' karya Hannah Kim menyoroti pengalaman orang Amerika di Korea dan orang Korea di Amerika.
Kontak lintas budaya menjadi inti kajian, baik pada tingkat personal maupun institusional.
Monograf hasil riset ketat ini dinilai berhasil menggambarkan kedua sisi pengalaman tersebut.
Jejak Sejarah dalam 'Ties That Bind'
Buku ini membawa pembaca menelusuri beberapa dekade kontak lintas budaya.
Kisahnya dimulai dari Philip Jaisohn, orang Korea-Amerika pertama.
Alur kemudian melewati pendudukan Jepang atas Korea pada 1910-45.
Periode itu berlanjut hingga deklarasi perang AS terhadap Jepang pada 1942 dan pembebasan Korea pada 1945.
Era pascaperang juga dibahas, termasuk awal adopsi internasional Korea.
Lebih dari 160.000 anak dikirim ke luar negeri untuk diadopsi.
Bab terakhir mengulas pembunuhan In-Ho Oh pada 1955.
Mahasiswa internasional asal Korea itu tewas dipukuli sekelompok pemuda kulit hitam yang baru ditolak masuk dansa di sebuah gereja Episkopal setempat.
Reaksi komunitas Kristen di Philadelphia dan para pemimpin politik seperti wali kota berpengaruh dalam pembentukan citra Korea-Amerika sebagai 'model minoritas'.
'Ties That Bind' dinilai berhasil menunjukkan efektivitas kontak lintas budaya pada tingkat individu dan institusi.
Buku ditutup dengan pengingat bahwa kontak semacam itu, terutama setelah Immigration Act 1965, tak lagi harus mencerminkan hubungan ketergantungan, model minoritas, dan stereotip lintas budaya lainnya.
Sebaliknya, kontak itu akan membantu membangun ikatan saling menghormati dan konstruktif yang ditandai agensi timbal balik.
Buku ini akan menarik bagi akademisi dan mahasiswa di bidang media dan komunikasi dalam kajian Korea.
Juga bagi mereka yang tertarik pada sejarah Korea-Amerika dan diaspora Korea secara global.
Namun, perlu dicatat bahwa berbeda dari volume sebelumnya dalam seri University of Nebraska Studies in Pacific Worlds, 'Victory in Shanghai' karya Robert Kim, ditemukan kelalaian penyuntingan dan proofreading.
Kelalaian itu tampak pada pengulangan komentar soal peran Kristen evangelis dan kesalahan ejaan dalam bibliografi untuk dua nama perintis kajian Korea di dunia berbahasa Inggris, Bruce Cumings dan Suh Dae-Sook.
Muncul pertanyaan apakah edisi kertas buku Kim yang telah disunting dan diproofread dengan benar akan hadir pada waktunya.
