Washington – Penjualan ritel Amerika Serikat mencatat penurunan terburuk dalam lebih dari satu tahun pada Juli 2026.
Data Departemen Perdagangan AS menunjukkan total penjualan ritel turun 0,6 persen dibanding bulan sebelumnya, menjadi 763,6 miliar dolar AS.
>>> Wall Street Bertahan di Dekat Rekor Setelah Data Ekonomi AS Lemah
Penurunan ini terjadi di tengah dampak perang yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari.
Konflik tersebut memicu lonjakan harga energi dan memperburuk inflasi yang sudah tinggi.
Survei sentimen konsumen Universitas Michigan untuk Agustus juga menunjukkan kepercayaan konsumen turun sekitar delapan persen. Ini mengakhiri dua bulan kenaikan sebelumnya.
Ekspektasi inflasi untuk satu tahun ke depan naik dari 4,2 persen pada Juli menjadi 4,3 persen pada Agustus.
Angka ini jauh lebih tinggi dibanding level sebelum perang.
Kelelahan Konsumen
Para analis sebelumnya memperkirakan penjualan ritel akan naik 0,1 persen. Namun, kenyataannya malah turun, menunjukkan tanda-tanda kelelahan konsumen Amerika.
Ekonom utama Navy Federal Credit Union, Heather Long, mengatakan penjualan ritel Juli mengecewakan di semua lini.
>>> Srondeng dan Para Jawara Panjat Tebing Dunia Siap Bertarung di EISCC 2026 Bandung
Konsumen mungkin telah memajukan belanja mereka untuk memanfaatkan acara belanja online pada Juni.
Meskipun belanja bensin lebih rendah pada Juli, konsumen tidak bersemangat untuk berbelanja di tempat lain.
Harga bensin reguler AS naik lebih dari 35 persen sejak awal perang, tetapi sedikit mendingin pada Juli.
Penjualan bensin turun 0,9 persen.
Penjualan kendaraan bermotor dan suku cadang turun 1,8 persen, belanja di toko kelontong juga menurun, dan penjualan online merosot 2,2 persen.
Meski demikian, penjualan ritel secara tahunan masih naik lima persen. Namun, belanja hobi yang stagnan menjadi indikator bahwa konsumen tidak memiliki banyak uang tersisa.
Ekonom Pantheon Macroeconomics, Oliver Allen, memperingatkan potensi perlambatan lebih tajam.
>>> Hindari Macet di Puncak Bogor? Ini 6 Jalur Alternatif yang Bisa Anda Coba
Dukungan dari pengembalian pajak telah hilang, harga energi tinggi terus menekan keuangan, dan tingkat tabungan pribadi tidak banyak ruang untuk turun.
