Jason Arday, sosiolog yang mengundurkan diri dari Universitas Cambridge pekan lalu, ditemukan meninggal pada Jumat (15/8).
Arday, yang menjadi profesor kulit hitam termuda di Cambridge pada usia 37 tahun, menghadapi tuduhan plagiarisme dan pertanyaan tentang klaim prestasinya.
>>> Iran Tegas di Selat Hormuz, Trump Minta Warga AS Terima Harga BBM Tinggi
Polisi Metropolitan London menyatakan seorang pria berusia 41 tahun ditemukan tidak sadarkan diri di sebuah rumah di Battersea, London selatan.
Kematiannya diperlakukan sebagai tidak wajar tetapi tidak dianggap mencurigakan.
Keluarga dan Reaksi Kampus
Keluarga Arday melalui pernyataan yang dirilis penerbitnya mengaku terkejut kehilangan sosok ayah, pasangan, saudara, paman, dan anak yang luar biasa.
Mereka menyebut kampanye informasi yang salah terlalu berat bagi Arday yang dikenal lembut.
Wakil Kanselir Cambridge, Deborah Prentice, menyatakan sangat berduka dan menyampaikan simpati kepada keluarga dan teman-teman Arday.
>>> Danantara Housing Expo: 10 Rumah Subsidi Gratis Menanti Pengunjung
Sebelumnya, Cambridge membuka penyelidikan terkait perekrutan Arday setelah muncul informasi baru tentang kualifikasinya.
Kontroversi dan Dukungan
Tuduhan plagiarisme mencuat setelah analisis Times of London terhadap disertasi doktoral Arday tahun 2015.
Media Inggris juga mempertanyakan klaim Arday tentang penggalangan dana amal sebesar 5,5 juta pound sterling.
Arday membantah plagiarisme, tetapi mengakui kesalahan dalam pengerjaan disertasinya.
>>> BAZNAS, Danantara, Kemenkop, dan MES Teken MoU Perkuat Zakat dan Koperasi Syariah
Pendukungnya, termasuk akademisi dan politisi, menyebut tuduhan itu sebagai kampanye fitnah untuk melemahkan Arday dan orang kulit hitam lainnya.
