unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Anak-anak Flores Alami Trauma Usai Gempa Mematikan, Ribuan Warga Masih Mengungsi
News

Anak-anak Flores Alami Trauma Usai Gempa Mematikan, Ribuan Warga Masih Mengungsi

Anak-anak di kamp pengungsian setelah gempa di Flores, NTT
Anak-anak Flores Alami Trauma Usai Gempa Mematikan, Ribuan Warga Masih Mengungsi
A A Ukuran Teks16px

LAMBA LEDA, Indonesia — Ribuan warga masih mengungsi di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Selasa (19/8), tiga hari setelah gempa bumi dahsyat menewaskan sedikitnya 70 orang dan melukai hampir 1.200 lainnya.

Bencana itu juga merusak ribuan rumah, membuat banyak anak mengalami ketakutan dan trauma.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 40.000 orang berlindung di tenda, pusat evakuasi, dan kamp-kamp darurat.

Gempa yang terjadi Sabtu dini hari itu merusak sedikitnya 11.925 rumah, 172 fasilitas kesehatan, 658 sekolah, 187 kantor, dan 172 tempat ibadah.

Anak-anak di Kamp Pengungsian Alami Trauma

Di kamp-kamp pengungsian yang padat, anak-anak terlihat bermain di bawah tenda terpal, sementara petugas dan relawan memberikan dukungan psikososial, makanan, dan bantuan medis.

Seorang warga Lamba Leda, Vincentius Rano, menceritakan saat gempa terjadi, ia dan istrinya baru saja bangun tidur.

“Tiba-tiba kami merasakan getaran yang semakin kuat,” kata ayah dari anak perempuan berusia 5 tahun itu.

Pasangan itu bergegas menjemput putri mereka yang masih tidur, tetapi sebelum sempat keluar, sebagian rumah runtuh dan melukai punggung serta bahu Rano.

“Kami tidak sempat keluar. Semuanya terjadi begitu cepat.

Atap runtuh menimpa kami, dan yang bisa saya lakukan hanyalah melindungi istri dan anak dengan punggung saya,” ujarnya.

Program dukungan psikososial yang menggabungkan perawatan kesehatan mental dan layanan sosial tengah digelar di wilayah terdampak.

Anak-anak didorong membaca buku dan mengikuti permainan, kegiatan edukatif, serta aktivitas kelompok untuk mengatasi rasa takut dan cemas.

Kepala polisi setempat, Yudhi Franata, mengatakan dampak psikologis bagi banyak penyintas, terutama anak-anak, masih terasa lama setelah getaran berhenti.

Orang tua di pusat evakuasi mengaku banyak anak takut kembali ke dalam rumah dan terbangun ketakutan setiap kali gempa susulan mengguncang.

Petugas polisi Mieke Suharni, salah satu dari 30 personel yang diterjunkan ke Lamba Leda, mengatakan sebagian besar pekerjaan mereka fokus membantu anak-anak mengatasi dampak emosional bencana.

Ia menambahkan, petugas telah menggelar kegiatan trauma healing di sejumlah kamp pengungsian, tetapi tekanan emosional masih meluas di kalangan penyintas.

“Kami mencoba membantu orang mengelola ketakutan mereka selangkah demi selangkah,” kata Suharni.

“Sebagian penyintas masih mengalami kecemasan dan ketakutan berlebihan. Tujuan kami membantu menenangkan trauma itu agar mereka bisa mulai pulih.”

Gempa berkekuatan magnitudo 7,0 terjadi pada kedalaman 10 kilometer, Sabtu (16/8) pukul 05.00 WITA, menurut Badan Survei Geologi AS (USGS).

Warga sempat berhamburan keluar karena peringatan tsunami, namun peringatan itu kemudian dicabut.

Otoritas mencatat lebih dari 2.100 gempa susulan hingga Selasa, meski hanya 70 yang dirasakan warga.

Indonesia, negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, rawan gempa dan letusan gunung berapi karena terletak di Cincin Api Pasifik.

Flores pernah mengalami bencana mematikan pada 1992, ketika gempa dan tsunami menewaskan sekitar 2.500 orang.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru