Atlet pickleball Indonesia, Angie Bong, mengungkapkan keluh kesahnya soal minimnya dukungan sponsor dari dalam negeri.
Keluhan itu disampaikannya pada Sabtu (3/10/2026) malam WIB, seperti dilansir dari Kompas.
Meski telah mengumpulkan sekitar 60 medali internasional dalam setahun, Angie mengaku kesulitan mendapatkan sponsor lokal. Ia bahkan harus memakai identitas negara sponsor saat bertanding di tingkat internasional.
Angie menuturkan bahwa sebagian besar dukungannya berasal dari perusahaan asing.
"Saya mengeluh karena merasa kok susah banget untuk cari sponsor di Indonesia, karena beberapa kali email tidak dibalas bahkan untuk support sekelas sepatu saja susah banget sumpah," ujarnya.
Kondisi ini membuatnya bergantung pada pendanaan luar negeri untuk terus berlaga di turnamen level tinggi Asia.
"Jadi sampai saat ini semua sponsor dari perusahaan asing untuk bermain tingkat profesional, bermain di Asia dengan level tinggi," kata Angie.
Angie merupakan peringkat 15 Asia kategori tunggal putri dan nomor 1 Indonesia untuk ganda campuran.
Atlet asal Singkawang itu kini menetap di Bali dan menjadi salah satu atlet paling aktif mengikuti kompetisi di berbagai negara.
Meski tidak bepergian sendiri, ia sering turun di banyak turnamen.
"Meskipun saya bukan satu-satunya orang Indonesia yang baru menyelesaikan tur di luar negeri, saya juga pergi bersama teman yang berasal dari Bali.
Hanya saja, saya lebih aktif mengikuti turnamen-turnamen ini ke berbagai negara," tuturnya.
Dampak dari dukungan asing itu ia rasakan saat bertanding di China, Vietnam, hingga Kanada. Aturan sponsor membuat nama Indonesia kerap tidak muncul saat ia meraih podium.
"Sebenarnya yang saya sesalkan ketika main di China itu harus pakai bendera China karena kalau tidak saya tidak dibiayain.
Kemudian saat main di Vietnam logo-logo yang saya pakai itu dari sponsor luar semua, Waktu main di Kanada itu sponsornya dari negara yang ngontrak," ujar Angie.
Mantan atlet tenis itu mengaku sedih karena setiap kemenangan tidak diiringi pengibaran identitas nasional.
"Sedih, karena setiap turnamen ini hampir selalu mendapatkan medali tapi tak bisa disebutkan nama Indonesia-nya karena supportnya dari asing semua dan ikutin aturan mereka juga," katanya.
Dalam waktu dekat, Angie dijadwalkan kembali bertanding di China dengan fasilitas penuh dari pihak luar negeri.
"Bulan depan saya ada turnamen di China jadi semua disupport dari sana mau tidak mau dijalani. Kalau tidak, gak bisa dapat pengalaman di luar," ujarnya.
Baginya, persoalan ini bukan sekadar finansial, melainkan kesempatan membawa nama bangsa di ajang internasional. "Sedih saja dari ujung kaki sampai kepala yang ngasih orang luar semua.
Itu yang saya sesalkan, mau sampai kapan seremonial harus pakai bendera luar," kata Angie.
Keluhan yang diunggah melalui akun Threads @angiebong21 memicu reaksi dari sesama atlet dan orang tua atlet yang mengalami nasib serupa.
"Ini sebagai edukasi juga, banyak yang DM saya di medsos karena senasib," ujarnya.
Peraih medali emas Tur PPA Asia 2025 itu menyoroti banyak atlet berprestasi yang terpaksa berhenti di tengah jalan akibat ketiadaan akses sponsor.
"Kadang atletnya cerita langsung, ada juga orang tua atlet yang mengeluh, padahal sudah berprestasi tapi harus berhenti di tengah jalan," tutur Angie.
Ia merasa prihatin terhadap atlet lain yang tidak memiliki jaringan untuk menjangkau sponsor internasional. "Sedih bacanya.
Bersyukur saya lebih beruntung karena tahu caranya mencari sponsor di luar," ujarnya.
Ketiadaan dukungan finansial dinilainya menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan karier atlet nasional. "Bagaimana kalau orang tidak bisa cari kaya daya kan kasian akhirnya karirnya terhenti dan selesai.
Saya beruntung saja ada link di keluar negeri bisa survive untuk jalan terus," kata Angie.
Usai unggahan tersebut viral, Angie mulai mendapatkan respons positif dari beberapa pihak sponsor lokal. "Tapi ada satu dari Indonesia baru-baru ini.
Aku bersyukur ya sejak aku posting itu ada beberapa sponsor yang proses deal," tuturnya.
Ia menegaskan kembali bahwa keprihatinannya berakar pada rasa bangga membawa nama negara, bukan semata-mata materi.
"Sebenarnya saya sedih bukan gara-gara tidak ada duit tapi sedihnya itu ketika menang negara asal saya tidak disebutkan," ujar Angie.
Pengakuan atas identitas Indonesia saat meraih medali diakuinya sebagai kebanggaan terbesar seorang atlet.
"Itu yang bikin miris, kalau materi ada tapi yang bikin begitu sedih dapat medali tapi Indonesia tidak disebut, kalau disebutkan kan merasa ada kebanggaan," katanya.
