unique visitors counter
⌂ Beranda News Ulama Nahdliyyin: Muktamar NU Harus Jauh dari Praktik Transaksional
News

Ulama Nahdliyyin: Muktamar NU Harus Jauh dari Praktik Transaksional

Ulama Nahdliyyin: Muktamar NU Harus Jauh dari Praktik Transaksional
A A Ukuran Teks16px

Forum Ulama Nahdliyyin (FUN) menggelar Halaqah Jam’iyyah Nahdlatul Ulama di Jakarta pada Jumat (21/8/2026).

Acara bertema “Menyelamatkan Marwah Syuriyah dan Kemuliaan Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA)” ini menjadi ruang konsolidasi pengurus syuriyah, tanfidziyah, dan pengasuh pesantren.

>>> Misteri 'Ghosting'-nya Bos Restoran Korea Son Ga: Terjerat Kasus Berat, Rumah Mewah Ditinggalkan dan Imigrasi Pasang Perangkap

Tujuannya mendorong pelaksanaan Muktamar ke-35 NU yang menjunjung tinggi otoritas moral, keteladanan ulama, dan komitmen menolak politik uang.

Sistem AHWA Disebut Menyimpang

Ketua FUN KH Mujib Qulyubi menilai sistem AHWA seharusnya menghindari praktik transaksional dalam pemilihan kepemimpinan NU.

Namun, ia menyayangkan pelaksanaannya saat ini justru memunculkan dugaan penyimpangan.

“Tujuan utama sistem AHWA ini untuk menghindari politik uang, eh sekarang yang terjadi sebaliknya,” ujarnya.

Ia juga menyoroti dugaan praktik “tembak di tempat” dan paket calon yang disebut berasal dari institusi luar NU.

>>> Heboh Video Viral Kasir Indomaret Durasi 7 Menit di TikTok: Fakta atau Jebakan Clickbait? Simak Klarifikasinya!

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius agar marwah Muktamar tetap terjaga.

Ishlah Dinilai Formalistik

Ketua Tanfidziyah PWNU DKI Jakarta KH Samsul Ma’arif menilai proses ishlah antara Rais Aam KH Miftahul Ahyar dan Ketua Umum PBNU Gus Yahya belum menyelesaikan persoalan secara substantif.

“Ishlah itu hanya formalistik, di permukaan, sampai sekarang sejatinya tidak pernah ada ishlah antara keduanya,” katanya.

KH Samsul juga mengungkapkan pernah diminta agar DKI Jakarta mundur sebagai tuan rumah Muktamar, namun permintaan itu ditolaknya.

Kriteria Calon Rais Aam dan Ketum PBNU

Dalam halaqah tersebut, KH Adnan Anwar menekankan pentingnya calon Rais Aam dan Ketua Umum PBNU memiliki pemahaman terhadap dinamika geopolitik kekinian.

>>> Era Baru 'Baterai Badak' Telah Tiba: Bedah Tuntas iQOO Z11S dan Neo11 Ultra, Monster 10.000 mAh yang Mengguncang China

Ia juga membandingkan kondisi NU saat ini dengan periode kepemimpinan sebelumnya.

📰 Update Terbaru