Banjir bandang dahsyat yang melanda kawasan perbatasan pegunungan Nepal dan China mulai mendapatkan akses bantuan bagi para penyintas pada Jumat (29/8).
Anak-anak yang terpisah dari keluarga mereka kini ditampung di pusat-pusat bantuan sementara sambil diupayakan reunifikasi dengan orang tua.
>>> Tim Penyelamat Korea Kesulitan Capai Lokasi Banjir Nepal, 9 Warga Masih Hilang
UNICEF menyatakan setidaknya 17.000 anak membutuhkan bantuan kemanusiaan mendesak.
Sebanyak 18 sekolah hancur dan 20 lainnya rusak akibat bencana ini.
Palang Merah Internasional memperkirakan sedikitnya 93.000 orang terdampak dan berada dalam 'kebutuhan besar'.
Tim Penyelamat Bekerja di Tengah Lumpur dan Puing
Tim penyelamat bekerja keras menembus lumpur dan puing-puing di daerah yang hancur akibat banjir bandang.
Di Nuwakot, salah satu wilayah banjir terdekat dari Kathmandu, seluruh desa tersapu dalam hitungan menit.
Yang tersisa kini hanyalah endapan lumpur tebal dan puing-puing.
Potongan kuil emas terlihat mencuat dari pasir, sementara bangkai kerbau berserakan di area tersebut.
Para penyintas yang kehilangan rumah berkumpul di kedai teh pinggir jalan.
Associated Press mengunjungi sebuah sekolah di Nuwakot yang dijadikan pusat distribusi bantuan sementara.
Di sana, organisasi non-pemerintah membagikan panel surya, pakaian, dan barang-barang kebersihan dasar.
“Apa yang saya terima hari ini nilainya lebih dari satu juta,” kata Kanchi Nepali.
“Saya tidak punya makanan, tempat tinggal, atau peralatan memasak. Hanya tubuh saya yang selamat.”
Jumlah Hilang Capai 2.000 Orang
Otoritas Nasional Pengurangan Risiko Bencana Nepal melaporkan jumlah orang hilang meningkat dua kali lipat menjadi hampir 2.000 orang.
Sebanyak 14.829 personel keamanan dikerahkan untuk operasi pencarian dan penyelamatan.
Mereka menggunakan drone untuk mencari penyintas di area yang berbahaya untuk diakses.