Teheran melancarkan serangan terhadap target militer Amerika Serikat di Timur Tengah pada Senin sebagai pembalasan atas serangan AS pertama di wilayahnya dalam sebulan terakhir.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan telah menanggapi serangan AS pada Minggu dengan menghantam dua pangkalan udara AS di Yordania menggunakan rudal balistik, menyebabkan "kerusakan berat".
>>> Banjir Bandang Grand Canyon: 1 Tewas, 15 Hilang, Evakuasi Massal
Tentara Yordania mengonfirmasi telah mencegat delapan rudal, tanpa menyebutkan asal-usulnya.
Teheran juga mengklaim telah menargetkan personel militer AS di sebuah pangkalan udara di Uni Emirat Arab dan menembak jatuh drone AS di Selat Hormuz.
Kronologi Serangan dan Respons
Serangan ini terjadi setelah AS pada Minggu menyerang peluncur roket Iran di pulau kecil Larak, yang terletak di jalur pelayaran strategis.
Washington mengatakan serangan itu bertujuan mencegah Iran menempatkan lebih banyak ranjau laut di selat tersebut, beberapa hari setelah AS mengumumkan telah selesai membersihkan bahan peledak dari jalur air itu.
"Pasukan AS mengambil tindakan terbatas dan presisi terhadap pasukan pemasang ranjau IRGC yang mengancam secara langsung di Selat Hormuz," tulis Komando Pusat militer AS di X.
IRGC mengatakan serangan AS mengakibatkan "korban jiwa" dan serangan berikutnya ke Yordania adalah "respons terhadap agresi udara AS-Zionis".
Kementerian luar negeri Iran mengutuk serangan AS di Larak dan membenarkan serangan ke Yordania sebagai "pembelaan yang sah".
"Kami tidak menginginkan perang, tetapi kami akan memberikan respons tegas kepada para agresor," tambah Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam pernyataan yang dikutip TV pemerintah.
Pezeshkian berbicara sebelum bepergian ke Kirgistan untuk menghadiri KTT blok yang bertujuan melawan pengaruh Barat, bersama Presiden Rusia Vladimir Putin dan pemimpin China Xi Jinping.