Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, mengirimkan pesan tertulis kepada negara-negara Muslim, terutama di kawasan Teluk, untuk bersatu melawan apa yang disebutnya sebagai "musuh sebenarnya".
Pesan tersebut dipublikasikan melalui akun Telegram Khamenei dalam rangka Pekan Persatuan Islam, yang menandai peringatan kelahiran Nabi Muhammad.
>>> Jakarta Dilanda 1.163 Kebakaran Selama Kemarau Panjang, Instalasi Listrik Jadi Pemicu Utama
Dalam pesannya, Khamenei menyerukan persatuan umat Islam, kerja sama di berbagai bidang, dan pertahanan bersama.
Ia menegaskan bahwa siapa pun yang memecah belah umat Islam, baik disengaja maupun tidak, telah membantu musuh-musuh Islam.
Khamenei juga mempertanyakan apakah rakyat Palestina akan dibiarkan "begitu tak berdaya" jika umat Islam bersatu.
Seruan untuk Mengidentifikasi Musuh Sebenarnya
Khamenei secara khusus meminta para penguasa Arab Teluk untuk merenungkan apakah "gerombolan tanpa identitas" akan berani mengincar tanah dan harta mereka jika rakyat dan pemerintah Teluk bersatu di bawah panji Islam.
>>> 5 WNA India Dideportasi Imigrasi Jaksel, Diduga Korban TPPO
"Rekomendasi saya yang tegas dan berulang kepada para penguasa negara-negara Islam, terutama negara-negara Asia Barat dan Teluk, adalah kenali musuh sebenarnya, pahami rencananya, dan hadapi," kata Khamenei.
Sejak Revolusi Islam 1979, monarki Arab Teluk telah menganggap ideologi revolusioner Iran, termasuk retorika anti-monarki dan pengaruh regionalnya, sebagai ancaman terhadap sistem politik mereka.
Selama konflik saat ini, Teheran telah menyerang fasilitas militer AS serta infrastruktur lain di negara-negara Teluk, yang menyoroti ketegangan antara Teheran dan tetangga-tetangganya di Teluk.
Khamenei belum terlihat di depan umum sejak terluka dalam serangan udara AS-Israel enam bulan lalu yang memicu perang Iran, yang menewaskan ayahnya dan pemimpin tertinggi sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei.
>>> Nepal Siaga Banjir Susulan, Warga Terdampak Masih Berjuang
Seruan persatuan ini menggemakan pernyataannya pada Jumat lalu kepada rakyat Iran, ketika ia mengatakan telah melarang tindakan yang merusak kohesi sosial dan mendesak para pejabat untuk menghindari "pernyataan yang melemahkan semangat" yang dapat melemahkan moral nasional dan publik.
