unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Ekonom: Investasi Pertanian dan Manufaktur Kunci Serapan Tenaga Kerja
News

Ekonom: Investasi Pertanian dan Manufaktur Kunci Serapan Tenaga Kerja

Ilustrasi sektor pertanian dan manufaktur
Ilustrasi sektor pertanian dan manufaktur
A A Ukuran Teks16px

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mendorong pemerintah memprioritaskan investasi di sektor pertanian, perikanan, dan industri pengolahan.

Menurutnya, langkah ini penting untuk meningkatkan serapan tenaga kerja di tengah pencapaian target investasi nasional.

Bhima menyampaikan hal tersebut saat dihubungi di Jakarta, Senin, 18 Mei 2026.

Ia menekankan bahwa pemerintah tidak boleh hanya mengejar besaran nominal investasi, tetapi juga harus memastikan investasi yang masuk mampu menciptakan lapangan kerja secara optimal.

Ia mendorong agar setiap Rp1 triliun investasi idealnya mampu menyerap sekitar 4.500 tenaga kerja secara langsung.

Oleh karena itu, investasi padat karya di sektor pertanian, perikanan, dan industri pengolahan harus menjadi fokus utama.

“Idealnya bisa mencapai 1:4.500 atau setiap Rp1 triliun investasi langsung mampu menyerap 4.500 orang tenaga kerja.

Investasi padat karya di sektor pertanian, perikanan dan industri pengolahan yang harus jadi prioritas,” kata Bhima.

Pentingnya Kepercayaan Investor

Selain fokus pada sektor padat karya, Bhima juga menyoroti pentingnya pemulihan dan penguatan kepercayaan investor. Menurutnya, perbaikan tata kelola ekonomi dan kepastian hukum menjadi faktor krusial.

Aspek kepercayaan, kata Bhima, sangat penting untuk menjaga minat investasi, terutama di tengah sorotan pelaku usaha global terhadap kepastian regulasi di Indonesia.

Sebelumnya, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menyatakan bahwa investasi merupakan salah satu faktor kunci untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen.

Hal ini disampaikan dalam acara Kadin Monthly Economic Diplomatic Breakfast di Jakarta, Jumat, 8 Mei 2026.

Rosan menjelaskan bahwa investasi berkontribusi sekitar 1,79 persen dari pertumbuhan ekonomi 5,61 persen pada kuartal I 2026.

Kontribusi investasi terhadap total pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 31-32 persen, meningkat dibanding periode sebelumnya yang berkisar 27-28 persen.

Menurut Rosan, konsumsi domestik masih menjadi penopang terbesar pertumbuhan ekonomi, sementara investasi menjadi kontributor terbesar kedua.

Target investasi nasional pada 2026 ditetapkan sebesar Rp2.041,3 triliun sesuai Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2026.

Target tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi menuju delapan persen dalam periode Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029.

Pada triwulan I 2026, realisasi investasi mencapai Rp498,8 triliun atau tumbuh 7,2 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Realisasi investasi tersebut sekaligus menyerap 706.569 tenaga kerja. Angka ini menunjukkan bahwa investasi yang tepat sasaran dapat memberikan dampak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja nasional.

Bhima menekankan bahwa aspek kepercayaan menjadi faktor penting untuk menjaga minat investasi, terutama di tengah sorotan pelaku usaha global terhadap kepastian regulasi.

Ia mendorong perbaikan tata kelola ekonomi dan kepastian hukum sebagai langkah strategis.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru