unique visitors counter
⌂ Beranda › Hiburan › Review Konser F-FOREVER City of Stars di Jakarta 2026: Penawar Rindu yang Belum Sempurna
Hiburan

Review Konser F-FOREVER City of Stars di Jakarta 2026: Penawar Rindu yang Belum Sempurna

Suasana konser F-FOREVER City of Stars di Jakarta 2026
Suasana konser F-FOREVER City of Stars di Jakarta 2026
A A Ukuran Teks16px

Kerinduan dua dekade penggemar F4 akhirnya terbayar melalui konser F-FOREVER City of Stars yang digelar di Indonesia Arena, Jakarta, pada 28-30 Mei 2026.

Acara ini menjadi momentum langka yang membuktikan daya tarik pop kultur awal 2000-an masih kuat.

Apresiasi tinggi patut diberikan kepada B'in Music, tim FForever, dan Ashin Mayday yang berhasil merealisasikan reuni bersama tiga member F4: Jerry Yan, Van Ness Wu, dan Vic Chou.

Penonton yang hadir pada hari ketiga menyaksikan manajemen teknis yang berjalan baik, adaptif, dan tetap menghadirkan atmosfer menyenangkan tanpa kehilangan keintiman pertunjukan.

Produksi Visual dan Momen Emosional

Aspek produksi visual menjadi kekuatan utama konser ini. Panggung megah, tata lampu presisi, dan arahan sinematografi yang apik sukses memperkuat karisma para personel.

LED raksasa menampilkan visual terkurasi yang disesuaikan dengan tema setiap lagu, menciptakan momen emosional baik saat penampilan personal maupun bersama.

Kehadiran live band memberikan kontribusi besar dalam menjaga transisi antarlagu tetap mulus. Dinamika panggung semakin hidup berkat koreografi penari latar yang solid.

Penyelenggara juga membagikan lightstick gratis kepada seluruh penonton, sebuah langkah taktis yang jarang ditemukan di konser promotor lain.

Penyediaan teks lirik sepanjang konser memfasilitasi karakter unik penonton Indonesia yang dikenal sebagai paduan suara terbaik.

Konser dibagi tiga babak: Future, Friendship, dan Forever.

Kebersamaan Jerry Yan, Van Ness Wu, Vic Chou, dan Ashin Mayday terasa solid sejak lagu pembuka Always be My Bro.

Aransemen ini memberikan penyegaran kontemporer sebelum memainkan tembang klasik F4 seperti Waiting for You, Ask for More, dan First Time.

Van Ness Wu mendominasi paruh awal dengan lagu solonya seperti Dance Until We Die dan Pray. Vic Chou membawakan medley Make a Wish dengan energi positif yang menular.

Kehadiran Ashin Mayday dengan lagu Suddenly Missing You So Bad dan Willful memberikan dimensi musik yang lebih kaya.

Jerry Yan tampil dengan kemeja putih dan kacamata hitam, menyanyikan Luxury dan Wo Shi Zhen De Zhen De Hen Ai Ni.

Jerry Yan juga menghadirkan momen haru dengan memegang kalung meteor ikonis dari Meteor Garden, sebagai penghormatan kepada mendiang Barbie Hsu.

Momen bromance antara Jerry Yan dan Vic Chou kerap terjadi di atas panggung, membangkitkan ingatan kolektif penonton pada era Meteor Garden.

Puncak pertunjukan terjadi saat panggung hidrolik thrust stage membawa para personel mendekati tribun penonton saat lagu Can't Lose You dan Season of Fireworks.

Konser ditutup dengan versi penuh Meteor Rain di sesi encore.

Suasana haru sempat terasa saat personel berkaca-kaca mendengar penonton bernyanyi.

Namun, Jerry Yan, Van Ness Wu, dan Ashin mencairkan suasana dengan menggoda Vic Chou menyanyikan Happy Birthday untuk ulang tahunnya yang jatuh pada 9 Juni.

Catatan Kritis

Meski sukses, konser ini memiliki beberapa kekurangan. Kebijakan batas maksimal pembelian 10 tiket dinilai terlalu longgar, memberi ruang bagi calo dan bot.

Tata letak panggung 360 derajat tidak benar-benar di tengah hall, mengecewakan banyak penonton.

Beberapa kelas tertinggi kesulitan menikmati konser karena terhalang tiang struktur atau pagar tribune. Hal ini memicu penonton berdiri, mengganggu kenyamanan di belakangnya.

Interpreter di paruh awal konser terdengar kaku dan keteteran, meski menjelang akhir performanya membaik.

Terlepas dari catatan tersebut, konser ini tetap menjadi penawar rindu berharga bagi penggemar yang menantikan F4 selama dua dekade.

Harapan muncul agar tata kelola ruang, manajemen tiket, dan teknis lapangan dapat lebih baik di masa mendatang.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru