unique visitors counter
⌂ Beranda › Lifestyle › Pemasaran di Atas Tali: Bisnis Korea Khawatir Jadi Starbucks Berikutnya
Lifestyle

Pemasaran di Atas Tali: Bisnis Korea Khawatir Jadi Starbucks Berikutnya

Protes boikot Starbucks di Seoul
Protes boikot Starbucks di Seoul
A A Ukuran Teks16px

Kontroversi acara "Tank Day" Starbucks Korea telah membuat banyak perusahaan di Korea khawatir akan menjadi sasaran kemarahan publik berikutnya.

Seorang profesional ritel senior yang diidentifikasi sebagai Mr. A menggambarkan pemasaran seperti berjalan di atas tali di tepi jurang.

Menurutnya, kampanye tanpa risiko sering gagal menarik perhatian konsumen, sementara yang mengutamakan kejutan atau hiburan dapat memicu kontroversi tak terduga.

"Jika berhasil, itu sukses besar. Jika salah, itu bencana," katanya.

"Semakin besar tekanan untuk menghasilkan hasil, semakin besar kemungkinan membuat kesalahan. Pemasar harus selalu peka dan sadar akan dampak sosial potensial dari kampanye mereka."

Kontroversi Starbucks dan Dampaknya

Acara "Tank Day" Starbucks Korea pada 20 Mei lalu menuai kritik luas karena diduga mengejek Pemberontakan Demokratik Gwangju 18 Mei.

Perusahaan kemudian mengumumkan hasil investigasi internal pada 26 Mei, mengungkapkan bahwa tujuh karyawan yang bertanggung jawab menyetujui materi pemasaran tanpa membuka lampiran email.

Proses tinjauan hukum juga dilewati karena kebutuhan kecepatan dalam pemasaran.

Insiden ini memicu diskusi ulang tentang kegagalan pemasaran sebelumnya yang melibatkan perusahaan Korea besar lainnya, termasuk Musinsa dan GS25.

Kasus Musinsa dan GS25

Musinsa, perusahaan fashion, kembali menjadi sorotan setelah Presiden Lee Jae-myung mengkritik iklan lama mereka di media sosial pada 20 Mei.

Iklan tersebut menampilkan foto kaus kaki sandal dengan slogan yang merupakan plesetan dari penjelasan resmi polisi atas kematian aktivis demokrasi Park Jong-chul pada 1987.

Pada 2021, GS25 mendapat kritik atas poster promosi produk berkemah yang menampilkan gestur tangan yang dianggap sebagai simbol kebencian terhadap pria.

Desainer poster kemudian menjelaskan bahwa gestur itu tidak disengaja dan hanya kesalahan.

Kontroversi serupa juga muncul pada 2023 dalam video promosi game MapleStory oleh Nexon Korea, dan pada 2024 dalam video promosi Renault Korea.

Kontroversi Lain yang Muncul

Pada 9 Mei, waralaba ayam Pelicana Chicken merilis iklan AI yang menampilkan plot perselingkuhan istri, menuai kritik karena dianggap meremehkan perzinahan.

Pada 11 Mei, saluran YouTube Giants TV yang dioperasikan tim bisbol Lotte Giants dituduh mengejek mantan Presiden Roh Moo-hyun melalui teks yang ditampilkan di video.

Insiden-insiden ini menunjukkan bahwa pilihan kreatif yang tampaknya sepele kini semakin menjadi fokus kontroversi publik.

Kekhawatiran dan Tindakan Perusahaan

Seiring kontroversi lama terus muncul kembali, industri ritel semakin gugup. Beberapa perusahaan khawatir kontroversi yang sebelumnya tidak ada bisa tiba-tiba muncul.

Sebagai respons, sejumlah perusahaan mulai melakukan tinjauan internal.

Sebuah perusahaan makanan baru-baru ini meluncurkan audit komprehensif terhadap konten promosi yang sudah dipublikasikan di situs web dan media sosial.

Perusahaan lain berencana memberikan pelatihan kepada karyawan di departemen komunikasi publik, termasuk humas dan pemasaran, dengan fokus pada peningkatan kesadaran sejarah dan kepekaan sosial.

Namun, para pelaku industri mengakui keterbatasan yang signifikan. Sulit untuk mengidentifikasi setiap referensi bermasalah atau slang internet yang terus berubah.

Beberapa figur industri bercanda bahwa departemen pemasaran mungkin memerlukan "detektor" internal yang mampu mengidentifikasi referensi terkait komunitas online sayap kanan Ilbe sebelum konten dirilis.

Pandangan Pakar

Jeong Yeon-seung, profesor bisnis di Universitas Dankook, menyarankan perusahaan untuk menetapkan prosedur tinjauan khusus selama tahap perencanaan pemasaran untuk memeriksa dampak historis, politik, dan sosiokultural dari konten.

"Memperkenalkan sistem penyaringan yang menggunakan kecerdasan buatan (AI) juga akan menjadi pendekatan yang efisien," katanya.

Seo Yong-gu, profesor di Universitas Sookmyung, menekankan perlunya organisasi untuk meningkatkan standar etika dan kesadaran sosial karyawan.

"Perusahaan harus menumbuhkan lingkungan di mana anggota tim dapat saling menantang dan memeriksa ide satu sama lain, serta mengembangkan budaya perusahaan yang berhati-hati," ujarnya.

"Hanya dengan begitu pertumbuhan yang stabil akan mungkin terjadi."

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru