unique visitors counter
⌂ Beranda › Lifestyle › Dampak Kesehatan Membuang Lemak Perut Babi
Lifestyle

Dampak Kesehatan Membuang Lemak Perut Babi

Potongan daging perut babi dengan lemak dipisahkan
Potongan daging perut babi dengan lemak dipisahkan
A A Ukuran Teks16px

Ketua LG Group, Koo Kwang-mo, menjadi topik perbincangan daring karena cara makannya saat menyantap samgyeopsal (perut babi panggang).

Pada 5 Juni, CEO Nvidia Jensen Huang bertemu dengan sejumlah pemimpin bisnis Korea di restoran barbekyu dekat Universitas Hongik, Seoul.

Hadir pula Ketua SK Group Chey Tae-won, Ketua Naver Lee Hae-jin, dan lainnya.

Salah satu momen yang menarik perhatian adalah saat Koo menggunakan sumpit dan gunting untuk memotong seluruh bagian lemak dari perut babi.

Banyak yang bertanya-tanya, apakah ia tidak tahu bahwa lemak adalah sumber cita rasa utama samgyeopsal?

Sebagian besar senyawa aroma pada daging babi tersimpan di jaringan lemak.

Saat dipanaskan, lemak terurai dan melepaskan ratusan zat aromatik volatil, menghasilkan aroma kaya, gurih, dan sedikit manis yang khas dari perut babi panggang.

Pengamat daring menduga Koo sengaja membuang lemak demi alasan kesehatan.

Kandungan Gizi Lemak Babi

Lemak babi memiliki nilai gizi. Mengandung asam lemak tak jenuh dalam jumlah signifikan, kadang disebut "vitamin F".

Sekitar 57 persen lemak babi terdiri dari lemak tak jenuh ini.

Lemak tak jenuh umumnya dianggap sebagai lemak sehat. Dapat membantu mencegah penyakit jantung dan pembuluh darah, mendukung fungsi otak, membentuk membran sel, dan mengatur peradangan.

Beberapa studi bahkan menunjukkan asam lemak tak jenuh dapat membantu mengeluarkan zat berbahaya seperti logam berat dari tubuh.

Masalahnya, lemak babi juga tinggi kalori dan kolesterol. Sisanya, 38 persen, terdiri dari asam lemak jenuh.

Meski tidak berbahaya secara inheren, konsumsi berlebihan dapat mendorong hati memproduksi lebih banyak kolesterol.

Dalam jangka pendek, hal ini dapat meningkatkan kadar kolesterol. Seiring waktu, dapat meningkatkan beban pada jantung dan pembuluh darah, serta risiko penyakit hati berlemak.

Pusat Informasi Kanker Nasional Korea juga mengidentifikasi lemak jenuh sebagai salah satu faktor diet yang terkait dengan peningkatan risiko kanker kolorektal.

Siapa yang Perlu Batasi Konsumsi?

Lemak babi dalam jumlah moderat dapat menjadi bagian dari diet sehat. Namun, beberapa orang perlu lebih berhati-hati.

Menurut ahli gizi, individu dengan kadar kolesterol tinggi, masalah ginjal atau hati, obesitas, diabetes, atau gangguan metabolisme lain harus memantau dan membatasi asupan lemak babi.

Idealnya, lemak menyumbang sekitar 15–30 persen dari total asupan kalori harian.

Beberapa ahli merekomendasikan konsumsi sekitar 1 gram lemak per kilogram berat badan per hari sebagai panduan sederhana.

Langkah terpenting adalah memahami kondisi kesehatan sendiri melalui pemeriksaan rutin dan berkonsultasi dengan dokter atau spesialis kedokteran keluarga untuk saran yang personal.

Alternatif Menu Sehat

Jika sulit mengontrol porsi, memilih menu lain dapat membantu. Bossam (daging babi rebus) dan jokbal (kaki babi) sering disarankan sebagai alternatif.

Proses memasak menghilangkan sebagian lemak, sementara kulit babi menyediakan kolagen.

Ayam dan bebek juga pilihan baik karena memiliki proporsi lemak tak jenuh tertinggi, sekitar 70 persen. Keduanya kaya protein, sehingga cocok untuk manajemen berat badan dan perkembangan otot.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru