Pemerintahan Presiden Donald Trump pada Rabu (24/6) mengajukan permintaan dana tambahan sebesar USD 87,6 miliar ke Kongres AS.
Mayoritas dana tersebut dialokasikan untuk perang melawan Iran, memicu potensi benturan baru dengan anggota parlemen yang sudah kecewa dengan konflik tersebut.
Permintaan pendanaan tambahan yang diunggah di situs Gedung Putih dan dikirim ke Kongres itu mencakup USD 67,15 miliar untuk militer.
Jumlah tersebut di luar sekitar USD 1 triliun yang telah dialokasikan tahun lalu dan USD 1,5 triliun yang diminta Trump untuk tahun depan.
Gedung Putih menyatakan permintaan dana terbaru ini untuk menutupi biaya operasional perang Iran, termasuk personel militer, kesiapan tempur, biaya operasional untuk mengisi kembali stok senjata, dan program rahasia.
Dana untuk militer mencakup USD 21 miliar untuk pengadaan amunisi, memperkuat basis industri AS, dan mendukung kemampuan penting.
Senat Bergabung dengan DPR dalam Resolusi Perang
Senat AS pada Selasa lalu meloloskan resolusi kekuasaan perang yang memerintahkan Trump menghentikan aksi militer terhadap Iran.
Langkah itu diambil berminggu-minggu setelah resolusi serupa disahkan DPR, dengan sejumlah anggota Partai Republik bergabung bersama hampir semua Demokrat dalam mengecam Trump.
Dalam makan siang di Kapitol pada Rabu, Trump terlibat adu mulut soal perang dengan Senator Bill Cassidy dari Louisiana, salah satu Republikan yang mendukung resolusi tersebut.
Permintaan dana tambahan itu langsung mendapat tentangan.
Anggota parlemen dari kedua partai mengeluh bahwa sejak AS dan Israel mulai membom Iran pada 28 Februari, Trump dan timnya tidak memberi informasi yang memadai tentang konflik atau rencananya.
Para anggota parlemen juga mencatat bahwa Konstitusi AS memberikan hak kepada Kongres, bukan presiden, untuk mengirim pasukan berperang, dan menuduh Trump mengabaikan pemisahan kekuasaan tersebut.
Vote Sulit bagi Republikan Jelang Pemilu Paruh Waktu
Partai Republik bisa menghadapi voting sulit terkait permintaan dana ini, mengingat perang yang sangat tidak populer dan hanya tersisa beberapa bulan menuju pemilu paruh waktu November.
Pemilu itu akan menentukan apakah mereka tetap menguasai Kongres.
Demokrat juga menuduh Trump mengabaikan kebutuhan warga AS yang bergulat dengan kenaikan harga bahan bakar dan pangan sejak pertempuran dimulai.
"Kita seharusnya menurunkan biaya bagi rakyat Amerika, bukan menulis cek kosong lagi untuk Trump," tulis Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer di X setelah Kongres menerima permintaan tersebut.
Senator Patty Murray dari Washington, Demokrat senior di komite alokasi, mengatakan akan meninjau permintaan itu untuk memastikan personel militer terurus, "tetapi saya tidak akan menyetujui puluhan miliar lebih untuk perang pilihan yang membawa bencana ini."
Mayoritas Republikan di DPR dan Senat sangat tipis sehingga RUU alokasi biasanya membutuhkan dukungan Demokrat untuk disahkan.
Permintaan anggaran tambahan juga mencakup sekitar USD 1,4 miliar untuk menangani wabah Ebola di Afrika, termasuk USD 800 juta untuk bantuan kemanusiaan internasional dan USD 500 juta untuk keamanan kesehatan global.
Gedung Putih mengatakan dana itu penting untuk melindungi warga AS dan menghentikan penyebaran ke Amerika Serikat.
Sebelum wabah, pemerintahan Trump melakukan pemotongan besar-besaran pada Badan Pembangunan Internasional AS dan upaya kesehatan masyarakat Afrika.
Permintaan belanja juga mengajukan USD 11,1 miliar untuk mendukung petani AS dan USD 1 miliar untuk meningkatkan pensiun pekerja di unit suku cadang General Motors, Delphi, yang dipotong saat restrukturisasi kebangkrutan Detroit pada 2009.
Gedung Putih juga meminta USD 500 juta untuk mendukung proyek konstruksi di sekitar Washington dan USD 1 miliar untuk membantu rekonstruksi Stasiun Penn di New York.
