Angkatan laut China meluncurkan rudal balistik jarak jauh dari salah satu kapal selam bertenaga nuklirnya di Pasifik Selatan pada Senin (6/7).
Langkah langka ini menuai protes dan kekhawatiran dari sejumlah negara di kawasan.
Peluncuran dilakukan pada pukul 12.01 waktu setempat dengan membawa hulu ledak palsu, demikian dilaporkan kantor berita resmi Xinhua.
China sebelumnya melakukan uji coba rudal serupa di Pasifik dua tahun lalu, yang merupakan pertama kalinya sejak 1980.
Xinhua menyatakan bahwa peluncuran tersebut merupakan bagian dari latihan tahunan rutin, mematuhi hukum dan praktik internasional, serta tidak ditujukan terhadap negara atau target mana pun.
Pernyataan itu juga diunggah ulang oleh Kementerian Pertahanan China.
Uji coba pada 2024 lalu dinilai sebagai penegasan status China sebagai negara adidaya yang sedang tumbuh, serupa dengan uji coba rudal balistik yang dilakukan Amerika Serikat.
Protes dari Australia, Jepang, dan Selandia Baru
Australia, Jepang, dan Selandia Baru mengkritik peluncuran tersebut.
Pemerintah Selandia Baru menyatakan diberi tahu beberapa jam sebelumnya dan mencatat bahwa rudal ditembakkan ke Zona Bebas Nuklir Pasifik Selatan.
Zona bebas nuklir itu dibentuk oleh Traktat Rarotonga 1986 yang melarang senjata nuklir di seluruh kawasan.
China telah meratifikasi protokol pada 1987 yang berjanji tidak menguji senjata nuklir di dalam zona tersebut.
Menteri Luar Negeri Selandia Baru Winston Peters mengatakan kepada Associated Press bahwa meskipun kekhawatiran sudah lama disampaikan, China tetap melakukan uji coba dalam hitungan jam setelah memberi tahu.
Peluncuran itu terjadi pada hari yang sama saat Australia dan Fiji menandatangani perjanjian pertahanan bersama baru yang dimaksudkan untuk melawan pengaruh China di Pasifik.
Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong menyebut uji coba tersebut sebagai tindakan yang mengganggu stabilitas kawasan.
Kementerian Pertahanan Jepang menyampaikan keprihatinan atas peningkatan aktivitas militer China dan meminta Beijing untuk mempertimbangkan kembali uji coba rudalnya agar proyektil tidak melintasi Jepang atau menimbulkan risiko keamanan lainnya.
Kebijakan Nuklir China
China menganut kebijakan "tidak menggunakan pertama" senjata nuklir, namun secara aktif mengembangkan teknologi dan persenjataan nuklir sebagai bagian dari strategi modernisasi Tentara Pembebasan Rakyat.
Menurut Nuclear Threat Initiative, China memiliki enam kapal selam rudal balistik dan 59 kapal selam serang bertenaga nuklir.
Laporan Pentagon pada akhir 2025 menyebutkan China memiliki sekitar 600 hulu ledak nuklir pada 2024 dan diperkirakan akan memiliki lebih dari 1.000 hulu ledak pada 2030.