Peluncuran itu terjadi pada hari yang sama ketika Australia dan Fiji menandatangani perjanjian pertahanan bersama baru yang dimaksudkan untuk melawan pengaruh China di Pasifik.
Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong menyatakan, "Australia telah menyampaikan kepada China bahwa kami menganggap ini sebagai tindakan yang mengganggu stabilitas kawasan."
Kementerian Pertahanan Jepang dalam sebuah pernyataan menyampaikan keprihatinannya tentang peningkatan aktivitas militer China dan meminta Beijing untuk "memikirkan kembali" uji coba rudalnya agar proyektil tidak terbang di atas Jepang atau menimbulkan risiko keamanan lainnya.
Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara mengatakan, "Aktivitas militer China, ditambah dengan kurangnya transparansi, telah menjadi perhatian serius bagi Jepang dan masyarakat internasional."
Ia merujuk pada aktivitas militer China yang aktif di sekitar Jepang dan peningkatan belanja militernya.
Tanggapan Beijing
Beijing menepis kritik tersebut pada Senin. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengatakan, "Kami berharap negara-negara terkait akan menghindari interpretasi yang berlebihan."
China mempertahankan kebijakan "tidak menggunakan pertama" senjata nuklir, tetapi juga secara aktif mengejar teknologi dan persenjataan nuklir sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memodernisasi Tentara Pembebasan Rakyat.
Menurut Nuclear Threat Initiative, China memiliki enam kapal selam rudal balistik dan 59 kapal selam serang bertenaga nuklir.
>>> Gaji Erling Haaland 2026: Segini Nominal Fantastis per Pekan di Man City
Dalam laporan terbarunya kepada Kongres tentang kemampuan militer China yang dirilis pada akhir 2025, Pentagon mengatakan China memiliki perkiraan persediaan sekitar 600 hulu ledak nuklir pada 2024, dan PLA tetap pada jalur untuk memiliki lebih dari 1.000 hulu ledak nuklir pada 2030.
