Misalnya, nasabah bisa menerima penjelasan spesifik seperti, “Permohonan pinjaman Anda tidak disetujui karena pendapatan Anda tidak stabil selama tiga bulan terakhir, dan saldo kartu kredit Anda saat ini masih tinggi.”
Komunikasi transparan berbasis data semacam itu tidak hanya membantu nasabah memahami proses pengambilan keputusan, tetapi juga membangun kepercayaan pada sistem teknologi.
Perlombaan antara Perlindungan dan Penipuan
Dalam keamanan finansial, AI menjadi perisai digital strategis.
Mastercard menganalisis satu triliun titik data dalam milidetik untuk memblokir penipuan, sementara sistem ASAP Korea menghubungkan 130 organisasi untuk berbagi informasi secara real-time.
Bank-bank di Vietnam juga menggunakan AI untuk mendeteksi transaksi mencurigakan dari perangkat yang tidak dikenal.
Sebaliknya, penjahat siber secara bersamaan mengeksploitasi AI untuk mengembangkan penipuan yang lebih canggih. Teknologi deepfake memungkinkan pelaku penipuan meniru suara atau identitas, membuat penipuan semakin meyakinkan.
Di Vietnam, kasus peniruan identitas kerabat atau otoritas semakin umum. Seiring skema ini menjadi lebih realistis, pengguna menjadi lebih rentan.
Pada saat yang sama, data pelatihan yang bias dapat menyebabkan penilaian risiko yang salah, berpotensi merugikan nasabah yang sah.
Mengingat tantangan ini, solusi efektif harus melampaui investasi teknologi dan berfokus pada mekanisme tata kelola.
Pertama, mekanisme “cooling-off” dapat diterapkan untuk transaksi berisiko tinggi. Ketika perilaku tidak biasa terdeteksi, transaksi ditunda sementara, memungkinkan pengguna membatalkannya jika dicurigai penipuan.
Kedua, pendekatan “human-in-the-loop” memastikan bahwa kasus berisiko tinggi, seperti transfer besar, transaksi cepat, atau keputusan pinjaman bernilai tinggi, ditinjau oleh ahli manusia sebelum persetujuan akhir.
Ketiga, autentikasi multi-faktor berbasis konteks harus diperkuat dengan menggabungkan biometrik, pengenalan perangkat, dan pelacakan lokasi.
Keempat, peringatan penipuan real-time melalui aplikasi seluler dapat membantu pengguna mengidentifikasi penipuan umum, termasuk taktik peniruan identitas.
