Berjalanlah di gang sempit Changsin-dong, kawasan di belakang Dongdaemun, Seoul, dan Anda akan menemukan pemandangan yang seolah membeku dalam waktu.
Toko-toko dipenuhi mainan plastik, stiker karakter, dan perlengkapan sekolah. Namun, lihat lebih dekat, ada yang berubah.
>>> Produksi Wagner Lokal Terinspirasi Serial Netflix
Pelanggan yang menggali wadah berisi gumpalan karet berwarna-warni bukanlah siswa SD.
Mereka kebanyakan mahasiswa atau pekerja kantoran berusia 20-30 tahun, banyak yang memegang ponsel terbuka ke Instagram, berburu dua barang spesifik: mallangi dan wakppu ball.
Dari Tempat Pensil hingga Alat Terapi
Mallangi berasal dari kata Korea 'mallang' yang berarti lembut dan kenyal. Mainan karet ini dirancang untuk diremas, diregangkan, dan ditekan.
Wakppu ball sebaliknya: bola seukuran telapak tangan dengan isian lunak di dalam cangkang lilin keras. Tujuannya adalah menghancurkannya hingga cangkang pecah dengan suara gemeretak yang memuaskan.
Tren ini didorong oleh orang dewasa muda yang mencari cara murah dan bebas layar untuk menenangkan pikiran.
Pencarian mallangi di Instagram menampilkan sekitar 120.000 unggahan, sementara wakppu ball lebih dari 10.000.
Video orang meremas mallangi atau memecahkan wakppu ball di TikTok, Reels, dan YouTube Shorts meraih ratusan ribu hingga jutaan tayangan.
Ziarah ke 'Mekah Mallangi'
Alih-alih memesan daring, konsumen muda datang ke pasar mainan Changsin-dong yang kini dijuluki 'Mekah Mallangi' di media sosial.
Mereka menyentuh dan membandingkan produk secara langsung sebelum memilih tekstur yang disukai.
Pada suatu pagi baru-baru ini, gang Changsin-dong sudah ramai sebelum tengah hari.
Sebagian besar pembeli tampak berusia 20-30 tahun, bergerak perlahan dari satu kios ke kios lain dengan ponsel di tangan.
Seorang wanita berusia 40-an bernama Jeon mengatakan, 'Dulu jalan ini ramai hanya sekitar Hari Anak atau awal tahun ajaran.

