Untuk orang tua dari anak dengan penyakit langka, ia mencari di perpustakaan rumah sakit, menggunting studi kasus internasional, dan menyerahkannya.
Ia bahkan menyewa kamar dekat rumah sakit agar bisa segera datang jika bangsal memanggil. Saat itu, ia percaya usaha akan membuatnya berguna.
Ia juga percaya bahwa jika ia berusaha cukup keras, pasien akan sembuh.
Keyakinan itu hancur di bangsal kanker. Penderitaan di sana terasa berbeda dari yang ia kenal di bangsal umum.
Sekitar waktu itu, ia merawat seorang pasien yang masih ia ingat sebagai "pasien lanjut usia bertopi merah".
"Ada seorang pasien yang merawat saya seperti anak perempuannya sendiri," kata Park.
"Dia adalah pasien berusia 60-an yang memakai topi wol merah karena semua rambutnya rontok saat menjalani kemoterapi."
"Dia tampaknya membaik. Kemudian dia mulai muntah semua yang dia makan.
Berat badannya turun drastis."
Melihatnya menuju kematian, Park merasa terikat tangan dan kaki. "Pasien menderita, dan saya tidak bisa berbuat apa-apa di sampingnya," katanya.
"Itu adalah pertama kalinya saya merasa tidak berdaya."
Setelah pasien itu meninggal, Park menjadi takut menemui pasien. Seorang perawat senior memanggilnya dan berbicara pelan.
"Kamu tidak punya pilihan selain terus menemui pasien yang tidak bisa diobati," kata perawat senior itu. "Meski begitu, masih ada sesuatu yang bisa kita lakukan untuk mereka."
Sesuatu itu adalah perawatan hospis. Park berusia 26 tahun ketika memutuskan terjun ke pekerjaan hospis.
Orang-orang di sekitarnya mencoba menghentikannya. Mereka bertanya mengapa seseorang semuda itu ingin memikul beban seberat itu.
Bahkan di kalangan perawat saat itu, kata Park, hospis dipandang sebagai tempat di mana pasien dikirim setelah orang lain menyerah pada mereka.
