Tapi satu kalimat tetap melekat padanya. "Masih ada sesuatu yang bisa kita lakukan."
Apa yang Bisa Dilakukan Perawat
Park ingat jelas putaran pertamanya di bangsal hospis.
Bangsal itu hanya memiliki 10 tempat tidur, dan suasananya terasa kurang seperti unit rumah sakit, lebih seperti kumpulan tetangga kecil.
Percakapan dimulai dengan pertanyaan tentang rasa sakit dan gejala, lalu beralih ke kehidupan sehari-hari. Jam berapa anakmu selesai kerja hari ini?
Kapan keluargamu datang?
Suasananya berbeda dari bangsal kanker, di mana pasien sering hidup dalam ketegangan setelah kemoterapi berat. Di bangsal hospis, relawan menyanyikan himne dan lagu anak-anak.
Park awalnya bertanya-tanya apakah ini benar-benar rumah sakit.
Sebelumnya, ia hanya mengirim pasien ke hospis. Ia tidak pernah melihat apa yang terjadi setelah mereka tiba.
Rasa bersalah menjauhkannya, katanya, karena ia merasa mengirim pasien ke sana berarti menyerah.
"Di bangsal kanker, saya hanya melihat orang meninggal sambil menggeliat kesakitan," katanya. "Tapi di sini, pasien pergi dengan ekspresi damai.
Saya berpikir, bagaimana bisa berbeda sekali?"
Banyak pasien mengatakan hal yang sama kepadanya. "Jika saya tahu seperti ini di sini, saya akan datang lebih cepat."
Park percaya mereka sering datang terlambat, ketika kematian sudah dekat dan hanya ada sedikit waktu untuk membereskan urusan.
Pada tahun 1996, ketika Park bergabung dengan bangsal, perawatan hospis di Korea masih dalam tahap awal. Negara ini memiliki sedikit spesialis.
Tidak ada spesialis kedokteran paliatif, sehingga dokter penyakit dalam bergiliran menangani pasien.
Perawat, yang merawat pasien sepanjang waktu, menanggung sebagian besar beban kerja.
"Bahkan tidak ada buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Korea, jadi saya berjuang untuk mendapatkan buku teks kedokteran internasional dan mempelajarinya," kata Park.
