unique visitors counter
⌂ Beranda News Parlemen Jepang Sahkan Aturan Suksesi Kaisar Hanya untuk Pria

Parlemen Jepang Sahkan Aturan Suksesi Kaisar Hanya untuk Pria

Parlemen Jepang Sahkan Aturan Suksesi Kaisar Hanya untuk Pria
Ilustrasi: Parlemen Jepang Sahkan Aturan Suksesi Kaisar Hanya untuk Pria
A A Ukuran Teks16px

Protes dan Kritik

Revisi ini memicu protes dari warga Jepang yang menganggap upaya pemerintah bertujuan menyingkirkan Putri Aiko dari suksesi. Mereka menilai langkah ini mendiskriminasi perempuan dan melanggengkan sistem patriarki.

Chizuko Ueno, seorang feminis terkemuka, menyebut ironis bahwa perdana menteri perempuan pertama justru menjadi pendukung utama suksesi laki-laki.

Ia mengatakan langkah ini memperlakukan anggota kerajaan laki-laki sebagai kuda pejantan dan menekan perempuan sebagai mesin reproduksi.

Setelah kelahiran Putri Aiko, ibunya Permaisuri Masako mengalami gangguan kesehatan akibat tekanan karena tidak melahirkan ahli waris laki-laki.

Masako adalah mantan diplomat lulusan Harvard dan rakyat biasa.

Masa Depan Keluarga Kekaisaran

Mantan kepala Badan Rumah Tangga Kekaisaran, Shingo Haketa, mengatakan monarki setelah Hisahito sangat tidak stabil.

>>> Pakar: Lonjakan Penjualan BEV Belum Tanda Pasar Matang

Sejarawan menilai sistem khusus laki-laki tidak dapat dijalankan di tengah populasi Jepang yang menua dan menyusut.

Sistem ini hanya berhasil di masa lalu karena selir melahirkan setengah dari kaisar hingga sekitar 100 tahun lalu.

Praktik itu berakhir di bawah kakek buyut Naruhito, Kaisar Taisho.

Usulan pemerintah pada 2005 untuk mengizinkan monarki perempuan dibatalkan setelah kelahiran Hisahito. Dua pewaris laki-laki Naruhito adalah saudaranya yang berusia 60 tahun, Putra Mahkota Akishino, dan keponakannya Hisahito.

Adopsi Kerabat Jauh

Langkah yang lebih kontroversial adalah mengizinkan keturunan laki-laki yang belum menikah, berusia 15 tahun ke atas, dari kerabat jauh kekaisaran untuk diadopsi.

Hanya mereka yang berasal dari garis keturunan ayah yang memenuhi syarat.

Sebanyak 51 anggota dari 11 keluarga cabang melepaskan status kerajaan pada 1947 untuk meringankan beban keuangan pascaperang.

Mereka setidaknya 36 generasi terpisah dari Naruhito karena berpisah dari nenek moyang garis laki-laki yang sama 600 tahun lalu.

M
Tim Redaksi
Penulis: Maria Renata
📰 Update Terbaru
stikibot