Kolaborasi empat perusahaan robotika Jepang dengan Nvidia untuk mengembangkan robot berbasis AI menandai babak baru persaingan industri robot global.
Di balik langkah tersebut, China justru muncul sebagai kekuatan baru yang dalam satu dekade terakhir berhasil mengubah diri dari pengguna teknologi menjadi salah satu pemimpin industri robot dunia.
>>> Hotman Paris Resmi Jadi Pengacara Febrie Adriansyah, Terima Surat Kuasa Pagi Ini
Negeri Tirai Bambu pada awal 2000-an lebih dikenal sebagai 'pabrik dunia' dengan biaya tenaga kerja murah.
Kini China menjelma menjadi salah satu pusat pengembangan robot humanoid paling agresif di dunia.
Perusahaan-perusahaan China tidak hanya mampu memproduksi robot dengan harga lebih murah, tetapi juga mulai membawa teknologinya keluar dari laboratorium menuju pabrik, rumah sakit, hingga ruang publik.
>>> 4 HP vivo Harga Rp1 Jutaan Juli 2026, Cocok untuk Pelajar dan Pekerja
Transformasi dari Pengekor Teknologi
Selama bertahun-tahun, industri robot China masih bergantung pada teknologi asing.
Robot yang digunakan di berbagai pabrik sebagian besar dipasok oleh perusahaan Jepang, Jerman, maupun Swiss.
Di saat negara-negara maju memimpin teknologi otomasi, China lebih banyak berperan sebagai basis produksi manufaktur global.
>>> Anggota DPR Soroti Bunga dan Cicilan Utang 2025 Capai Rp1.400 Triliun
Titik balik datang pada 2015 ketika pemerintah China meluncurkan strategi Made in China 2025.

