Center of Reform on Economics (Core) mempertanyakan langkah mitigasi pemerintah dan PT Pertamina (Persero) dalam mengantisipasi peralihan konsumsi dari BBM nonsubsidi Pertamax ke Pertalite.
Fenomena ini telah menyebabkan kelangkaan dan antrean panjang di wilayah Sumatra Utara.
>>> Hotman Paris Resmi Jadi Pengacara Febrie Adriansyah, Terima Surat Kuasa Pagi Ini
Direktur Eksekutif Core Mohammad Faisal menilai disparitas harga antara Pertamax dan Pertalite yang mencapai Rp6.250 per liter membuat masyarakat lebih memilih membeli BBM bersubsidi.
Harga Pertamax naik drastis 32,1% dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter sejak Juni.
>>> 4 HP vivo Harga Rp1 Jutaan Juli 2026, Cocok untuk Pelajar dan Pekerja
Menurut Faisal, kenaikan harga BBM nonsubsidi yang terlalu tinggi meningkatkan kemungkinan konsumen beralih ke BBM bersubsidi.
Ia menegaskan bahwa hal tersebut belum diantisipasi dengan baik oleh pemerintah dan Pertamina.
>>> Anggota DPR Soroti Bunga dan Cicilan Utang 2025 Capai Rp1.400 Triliun
Jika persoalan ini tidak segera diatasi, roda perekonomian di daerah dapat terdampak. Mobilitas masyarakat dan pelaku usaha menjadi terganggu akibat kelangkaan BBM.
