Center of Reform on Economics (Core) mempertanyakan langkah mitigasi pemerintah dan PT Pertamina (Persero) dalam mengantisipasi peralihan konsumsi dari BBM nonsubsidi Pertamax ke Pertalite.
Fenomena ini telah menyebabkan kelangkaan dan antrean panjang di wilayah Sumatra Utara.
Direktur Eksekutif Core Mohammad Faisal menilai disparitas harga antara Pertamax dan Pertalite yang mencapai Rp6.250 per liter membuat masyarakat lebih memilih membeli BBM bersubsidi.
Harga Pertamax naik drastis 32,1% dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter sejak Juni.
Menurut Faisal, kenaikan harga BBM nonsubsidi yang terlalu tinggi meningkatkan kemungkinan konsumen beralih ke BBM bersubsidi.
Ia menegaskan bahwa hal tersebut belum diantisipasi dengan baik oleh pemerintah dan Pertamina.
Jika persoalan ini tidak segera diatasi, roda perekonomian di daerah dapat terdampak. Mobilitas masyarakat dan pelaku usaha menjadi terganggu akibat kelangkaan BBM.