Nilai tukar rupiah menutup perdagangan pasar spot hari ini, Selasa (21/7/2026), dengan penguatan 0,33% ke level Rp17.883 per dolar AS.
Penguatan ini menjadikan rupiah sebagai mata uang dengan kinerja terbaik di kawasan Asia pada sore hari.
>>> BNI Raih Penghargaan Bank UMKM dan Trade Finance Terbaik di AlphaSEA 2026
Selain rupiah, sejumlah mata uang Asia lainnya juga menguat, seperti rupee India, dolar Singapura, ringgit Malaysia, won Korea Selatan, dan yuan offshore.
Di sisi lain, dolar Taiwan, peso Filipina, yen Jepang, dan dolar Hong Kong tercatat melemah.
Faktor Pendorong Penguatan Rupiah
Penguatan rupiah dan mata uang kawasan turut didukung oleh penurunan harga minyak mentah Brent yang terpangkas menjadi US$88,4 per barel.
>>> China Panggil Duta Besar Filipina Terkait Bentrokan di Laut China Selatan
Dari dalam negeri, ekspektasi langkah hawkish Bank Indonesia (BI) menjadi katalis utama penguatan rupiah.
Aksi beli di pasar obligasi pemerintah juga turut mendorong apresiasi mata uang Garuda.
>>> Houthi Umumkan Embargo Maritim terhadap Arab Saudi di Bab al-Mandeb
Pelaku pasar menantikan pengumuman suku bunga BI yang dijadwalkan besok, dengan konsensus memperkirakan potensi kenaikan BI rate menjadi 6%.
