Perkembangan kecerdasan buatan (AI) diprediksi membawa perubahan besar terhadap dunia kerja dalam beberapa tahun ke depan.
Semakin luasnya adopsi AI di berbagai industri memicu kekhawatiran bahwa jutaan pekerjaan akan terdampak otomatisasi.
>>> Komdigi Masih Kaji Pelepasan Spektrum 3,5 GHz untuk 5G
Di tengah kekhawatiran itu, CEO Palantir Technologies, Alex Karp, mengungkapkan pandangannya mengenai profesi yang dinilai memiliki peluang besar untuk tetap bertahan di era AI.
Menurutnya, pekerja dengan keterampilan vokasi dan individu neurodivergent menjadi dua kelompok yang unggul dibanding profesi lain.
Pekerja Vokasi Sulit Digantikan AI
Alex Karp menilai profesi yang mengandalkan keterampilan teknis dan pekerjaan langsung di lapangan masih akan sangat dibutuhkan.
Kategori ini mencakup teknisi, mekanik, tukang listrik, hingga profesi lain yang membutuhkan kemampuan fisik dan pengalaman praktik.
Menurutnya, AI lebih mudah mengambil alih pekerjaan administratif atau berbasis pengetahuan dibanding tugas yang memerlukan keterampilan manual.
>>> Netflix Kembali Jual Obligasi Investment Grade, Raup US$1 Miliar
Kemampuan menyelesaikan persoalan secara langsung di lapangan menjadi alasan utama profesi vokasi lebih tahan terhadap gelombang otomatisasi.
Individu Neurodivergent Memiliki Cara Berpikir Berbeda
Selain pekerja vokasi, individu neurodivergent juga dinilai memiliki keunggulan di era AI.
Mereka memiliki cara berpikir yang berbeda dan kemampuan yang hingga kini sulit digantikan oleh teknologi berbasis AI.
Pernyataan Karp ini dikutip dari laporan Newsweek yang merangkum wawancaranya bersama Fortune pada Selasa, 21 Juli 2026.
>>> Piala AFF 2026 Tayang di RCTI, Ini Jadwal Timnas Indonesia
Kedua kelompok tersebut dinilai memiliki keunggulan kompetitif di tengah meningkatnya ancaman AI terhadap berbagai profesi.
