Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin (27/7) menyatakan optimisme terhadap prospek kesepakatan damai dengan Iran.
Kedua belah pihak telah menahan diri untuk tidak saling menyerang selama tiga hari berturut-turut.
>>> Polisi Buka Peluang Ekshumasi untuk Dalami Kematian Karumga Mantan Jampidsus
Pertempuran antara kedua negara sempat terhenti sejak Jumat setelah 13 malam serangan AS terhadap Republik Islam Iran.
Serangan itu dipicu oleh kegagalan diplomasi terkait blokade Iran di Selat Hormuz.
Trump berharap diplomasi baru dapat mengakhiri perang yang dimulai pada akhir Februari lalu. Perang diawali dengan gelombang serangan AS-Israel yang mengguncang kawasan dan ekonomi global.
"Saya memiliki banyak kesabaran... Kita lihat saja nanti," kata Trump di atas Air Force One.
"Saya pikir ada peluang bagus bahwa sesuatu bisa terjadi."
Tehran sebelumnya membantah adanya pembicaraan dengan AS untuk mengakhiri konflik.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan mediator mungkin menyampaikan pesan dari pihak Amerika, tetapi saat ini Iran tidak terlibat dalam negosiasi apa pun dengan AS.
Namun, Trump dalam pidatonya di Michigan bersikeras bahwa "saat ini, mereka berbicara dengan kami tentang membuat kesepakatan."
Di atas Air Force One, ia sebelumnya mengatakan jika upaya baru gagal, "kami akan kembali melakukan apa yang kami lakukan" sebelum jeda pertempuran.
Trump juga menepis kekhawatiran bahwa persediaan amunisi AS menipis setelah hampir lima bulan perang. "Kami memiliki banyak amunisi.
Kami memiliki banyak perlengkapan tingkat menengah juga, lebih dari yang bisa kami gunakan," ujarnya.
Serangan terhadap Arab Saudi
Meskipun ada jeda, Arab Saudi diserang pada Senin.
Kementerian Pertahanan Saudi mengatakan telah mencegat beberapa drone yang ditembakkan oleh kelompok pro-Iran di Irak yang menargetkan fasilitas minyak.

