Tim penyelamat di Jepang masih berupaya keras mencari korban selamat pada Rabu, sehari setelah gempa bumi berkekuatan 7,1 skala Richter mengguncang wilayah selatan negara itu.
Gempa tersebut telah menewaskan sedikitnya 13 orang, memutus aliran listrik ke ribuan rumah, dan merusak jalan-jalan di seluruh wilayah.
>>> Netanyahu Puji Pertemuan Pertama dengan Trump Sejak Perang Iran
Delapan orang berhasil ditarik dari reruntuhan pusat perbelanjaan yang sebagian ambruk di dekat Kota Kumamoto. Bangunan itu hancur akibat ledakan sekitar satu jam setelah gempa terjadi pada Selasa.
Tiga dari delapan korban selamat tersebut meninggal dunia.
Operator mal, Aeon, mengatakan empat pekerja di pusat perbelanjaan Kumamoto masih belum ditemukan dari total sekitar 2.700 staf.
Pelanggan telah dievakuasi segera setelah gempa awal.
"Bahkan sekarang, masih ada orang yang menunggu untuk diselamatkan, dan ini adalah perlombaan melawan waktu," kata Perdana Menteri Sanae Takaichi kepada wartawan di Tokyo.
Ia menambahkan, "Kami akan mengerahkan semua sumber daya yang ada di lapangan untuk menyelamatkan sebanyak mungkin orang."
Ledakan Gas Diduga Penyebab Runtuhnya Mal
Otoritas setempat sedang menyelidiki kemungkinan ledakan gas di mal Aeon tersebut.
Petugas penyelamat melaporkan mencium bau gas di dalam gedung, namun penyebab insiden masih dalam penyelidikan, kata juru bicara utama pemerintah, Minoru Kihara.
Takateru Sonoda (41), yang menjalankan salon rambut dan kafe di dekat mal, mengatakan kepada Jiji Press, "Saya pikir bom telah meledak.
Ada orang-orang yang memanggil orang lain untuk mengungsi dan sirene berbunyi. Jalan-jalan di dekatnya macet, itu adalah keadaan panik."
Tim pemadam kebakaran darurat, polisi, dan sekitar 170 personel tentara memusatkan perhatian pada area gedung di mana panggilan minta tolong diterima.

