Tana-wat, pekerja kantoran berusia 34 tahun di Bangkok, memulai paginya dengan menyalakan BYD Atto 3, mobil listrik buatan China.
Di perjalanan, ia singgah membeli lemonade seharga 20 baht di Mixue, jaringan minuman murah asal China.
Saat senggang, ia menggulir TikTok dan mengklik tautan di bawah video untuk berbelanja di TikTok Shop.
Rutinitas hariannya dikelilingi merek China yang dikenal sebagai C-brands.
Beberapa tahun lalu, C-brands identik dengan kesan murah di Thailand, tetapi citra itu berubah drastis.
Jangkauannya meluas dari makanan dan minuman murah ke fesyen kelas atas serta kendaraan listrik canggih.
Ekspansi perusahaan China ke Asia Tenggara kini menyentuh kehidupan sehari-hari konsumen.
C-brands di Setiap Lantai Mal Mewah
Di Iconsiam, salah satu mal paling mewah di Bangkok, C-brands hadir di hampir setiap lantai.
Ada Urban Revivo, merek fesyen; Pop Mart yang menjual mainan Labubu; serta produsen elektronik Xiaomi.
Chagee, merek teh premium China, menempati lokasi utama di lantai pertama yang biasanya hanya untuk merek mewah.
Pencahayaan dan desain interiornya membuat toko itu tampak seperti butik mewah.
Secangkir milk tea Chagee dijual sekitar 120 baht, jauh di atas harga minuman lokal yang sekitar 20 baht.
Meski begitu, toko itu dipenuhi pelanggan.
Chanya Phosri, 38, karyawan Chagee, mengatakan awalnya pelanggan mayoritas orang China, tetapi kini orang Thailand dari berbagai usia dan gender datang.
Setiap kali meluncurkan merchandise hasil kolaborasi dengan selebriti atau karakter animasi, antrean panjang terbentuk sebelum toko buka.
Nepim, mahasiswa 20 tahun yang menunggu pesanannya, mengaku penasaran pada Chagee setelah melihat foto tokonya di Instagram.
