Serial pendek vertikal berdurasi satu menit asal China kian menjadi kebiasaan menonton harian di Vietnam dan Filipina.
Format ini mampu menembus sentimen anti-China yang mengakar akibat perselisihan sejarah dan wilayah di Laut China Selatan.
Le Minh Anh, mahasiswa 20 tahun di Hanoi, mengaku menonton microdrama China tanpa benar-benar mengikuti judul maupun nama tokohnya.
Ia mulai dari beberapa video Facebook, lalu terpancing cliffhanger hingga mengunduh aplikasi khusus dan berulang kali membeli episode baru.
Microdrama adalah serial berbiaya rendah yang disajikan dalam episode vertikal berdurasi satu menit, umumnya terdiri dari 40 hingga 70 bagian.
Alurnya menawarkan kepuasan instan lewat konflik sengit seputar perebutan kekuasaan keluarga kaya, rahasia keluarga, perselingkuhan, dan balas dendam.
Dominasi Aplikasi dan Ekspansi Bisnis
Aplikasi pendek China seperti DramaBox dan ReelShort mendominasi posisi teratas peringkat popularitas aplikasi Android di Vietnam.
DramaBox, ReelShort, dan FreeReels masing-masing mencatat 290 juta, 272 juta, dan 230 juta unduhan global.
Studio produksi merilis lebih dari 1.000 judul sepanjang 2023, lalu melonjak pada paruh pertama 2026 dengan lebih dari 220.000 judul baru yang dihasilkan kecerdasan buatan.
Di Thailand, raksasa telekomunikasi AIS melaporkan 9 juta pelanggan memakai aplikasi serial vertikal setiap bulan.
AIS menggandeng ReelShort untuk meluncurkan paket 5G ReelShort mulai 39 baht atau sekitar 1,19 dolar AS per bulan.
Laporan Juli dari Korean Foundation for International Cultural Exchange atau KOFICE memerinci strategi akuisisi serupa di Filipina.
Platform menurunkan hambatan masuk lewat sulih suara bahasa lokal dan memakai sorotan Facebook serta TikTok untuk mengarahkan pengguna ke aplikasi berbayar.
Asia Tenggara dinilai pasar optimal untuk konten pendek karena populasi mudanya besar dan akrab dengan teknologi digital.
Tren ini juga mulai masuk ke India, pasar besar lain yang menyimpan sentimen anti-China kuat.
NDTV pada Agustus melaporkan India berada di tahap awal ledakan microdrama gaya China, dengan Generasi Z mendorong permintaan hiburan cepat saji.
Osuwanakul, warga Bangkok berusia 40-an, mengakui daya tarik microdrama China meski menilai alurnya absurd dan aktingnya lemah.
Menurutnya, ada kualitas adiktif yang membuat penonton terus menyimak.
Nguyen Linh, pekerja kantor 34 tahun di Hanoi, bahkan tidak menyadari tayangan itu berasal dari China.
Ia baru tahu setelah orang di sekitarnya memberi tahu, karena konten serupa sangat mudah ditemukan di YouTube dan TikTok.
Pengamat industri menilai klip pendek ini menjadi gerbang menuju hiburan China yang lebih luas.
Rasa penasaran dari klip pendek disebut berlanjut ke drama panjang di platform streaming seperti iQIYI dan WeTV, hingga berujung pada fandom selebritas.
Pengembang juga memonetisasi keterlibatan itu lewat belanja dalam aplikasi, memungkinkan pengguna membeli kosmetik, fesyen, dan produk yang dipakai tokoh di layar.