Ia menyebut merek China seperti Labubu dan Xiaomi sudah akrab baginya sehingga tidak ada penolakan khusus.
Chagee terus memperluas jaringan di Asia Tenggara dengan lebih dari 30 toko masing-masing di Thailand dan Indonesia serta 217 toko di Malaysia.
Merek kecantikan China juga menanjak.
Di toko ritel kecantikan Union Mall, Bangkok, produk seperti Judydoll menonjol di antara barang yang dipajang.
Seorang perempuan Thailand yang berbelanja di mal itu mengatakan gaya makeup "Chinese sister" sedang populer di negaranya.
Menurutnya, makeup bergaya China cukup glamor dan ia tertarik mencoba produk kecantikan China.
Perusahaan China juga menguasai pasar e-commerce Asia Tenggara.
Tiga platform teratas di kawasan itu adalah Shopee, TikTok Shop, dan Lazada, semuanya berada dalam pengaruh modal China.
Shopee berbasis di Singapura, tetapi raksasa teknologi China Tencent termasuk pemegang saham utamanya.
TikTok Shop tumbuh sangat cepat dengan nilai transaksi bruto tahunan di Asia Tenggara melonjak dari 4,4 miliar dolar AS pada 2022 menjadi 45,6 miliar dolar AS tahun lalu.
Platform-platform itu menjadi jembatan langsung yang menghubungkan C-brands dengan konsumen Asia Tenggara.
Mobil Listrik China di Jalan yang Dulu Dikuasai Jepang
Di Bangkok, sopir taksi Apith, 48, menjual Toyota berbahan bakar bensin miliknya tahun lalu dan beralih ke mobil listrik Aion buatan Guangzhou Automobile Group (GAC).
Ia mengaku lebih menyukai mobil Jepang, tetapi EV China menawarkan diskon besar dan biaya bahan bakar lebih rendah.
Secara keseluruhan, ia puas dengan desain interior dan fitur kenyamanannya.
Thailand, tempat Toyota dan Honda beroperasi, lama dikenal sebagai benteng produsen mobil Jepang dengan loyalitas konsumen yang kuat.