Pasar smartphone India mengalami penurunan pengiriman, tetapi nilai pasar masih tumbuh. Data terbaru IDC untuk paruh pertama 2026 menunjukkan tren ini.
Total pengiriman turun 7,9% year-on-year pada H1 menjadi 64,2 juta unit. Angka ini merupakan yang terendah dalam lima tahun terakhir.
>>> Kesan Pertama Redmi K100 Pro dan K100 Pro Max: Baterai Raksasa, Layar 185Hz
Pada kuartal kedua, penurunan lebih dalam, mencapai 11,1% menjadi 33,2 juta unit. Meski volume menurun, nilai pasar justru naik 3,6%.
Kenaikan harga jual rata-rata menjadi penyebab utama. Biaya memori, penyimpanan, dan layar yang lebih tinggi dibebankan ke konsumen.
Diskon online juga semakin sulit ditemukan. Hal ini mengurangi daya tarik flash sale yang sebelumnya mendorong volume penjualan.
Merek China Terpukul
Merek China merasakan dampak paling besar.
Vivo tetap di posisi teratas, tetapi pengirimannya turun 13,9% pada Q2, pangsa pasarnya turun dari 19% menjadi 18,4%.
Xiaomi turun 10%, Oppo 8,5%, realme 14,2%, dan Poco 12,3%. iQOO mengalami penurunan paling tajam, mencapai 61%.
>>> Harga Resmi Pixel 11 Series: Naik $100 dari Pendahulunya
Merek-merek ini biasanya mengandalkan promosi online agresif dan lini produk kelas menengah. Strategi itu kini kurang efektif karena harga naik dan konsumen lebih selektif.
Samsung dan Apple justru tumbuh. Pengiriman Samsung naik 0,4%, pangsa pasarnya naik dari 14,5% menjadi 16,4%.
Apple tumbuh 0,7% dengan pangsa naik dari 7,5% menjadi 8,5%.
Dari sisi nilai, Apple memimpin dengan pangsa pendapatan 27% setelah melonjak 22,2% year-on-year. iPhone 17 menjadi model terlaris pada Q1 dan Q2, meski ada kendala pasokan.
IDC memperkirakan paruh kedua 2026 masih sulit. Pengiriman bisa turun lebih dari 15% year-on-year, dengan total tahunan sekitar 128-130 juta unit.
Pasar India mulai menyerupai pasar yang lebih matang: siklus penggantian lebih panjang, loyalitas merek berkurang, dan konsumen hanya membeli jika nilai yang ditawarkan jelas.
>>> Google Pixel Tag Resmi Dirilis, Dukung UWB dan Baterai Setahun
Merek yang bergantung pada volume besar akan tertekan. Sementara itu, merek dengan daya tawar harga kuat dan produk premium lebih siap menghadapi perlambatan.
