Rusia secara resmi menetapkan Pavel Durov, pendiri dan CEO Telegram, sebagai buronan nasional pada Rabu, 29 Juli 2026.
Dinas Keamanan Federal (FSB) menerbitkan surat perintah penangkapan internasional terhadap miliarder kelahiran Saint Petersburg itu dengan dakwaan memfasilitasi aktivitas terorisme.
>>> Agensi Bantah Rumor Perselingkuhan Hwang Jung-min
Menurut pernyataan resmi FSB, Telegram gagal menghapus kanal, grup chat, dan bot yang diduga digunakan oleh badan intelijen Ukraina, organisasi teroris, dan kelompok ekstremis.
Platform tersebut dituduh menjadi alat untuk merencanakan sabotase, mengoordinasikan serangan teroris, melakukan pembunuhan massal, dan menjalankan penipuan siber di wilayah Rusia.
FSB juga menuduh Telegram digunakan sebagai alat rekrutmen warga Rusia oleh intelijen Ukraina untuk aksi subversif.
Respons Telegram
Hingga kini, Durov maupun Telegram belum memberikan pernyataan resmi atas dakwaan tersebut.
Namun, tak lama setelah kabar menyebar, akun resmi Telegram di X mengunggah gambar Durov mengacungkan jari tengah, sindiran khas sang CEO terhadap tekanan otoriter.
Langkah ini konsisten dengan sikap Durov selama satu dekade terakhir: menolak tunduk pada sensor negara yang mengancam privasi dan kebebasan berbicara.
Sejarah Konflik dengan Kremlin
Ini bukan pertama kalinya Durov berhadapan dengan Rusia. Pada April 2026, ia mengungkap bahwa penyelidikan pidana telah dibuka terhadap dirinya.
>>> Alasan Peran Sadie Sink di Spider-Man: Brand New Day Dirahasiakan
Surat panggilan bahkan dikirim ke apartemen lamanya di Rusia tempat ia tinggal 20 tahun lalu.
Saat itu, Durov menyindir: "Mereka menganggap saya bersalah karena membela Pasal 29 dan 23 Konstitusi Rusia: kebebasan berbicara dan hak atas komunikasi pribadi."
Hubungan Telegram dan Kremlin memang tegang sejak 2018, ketika Rusia gagal memblokir Telegram meski mengerahkan seluruh infrastruktur internet nasional.
Platform seperti Facebook, Instagram, X, Signal, dan Viber telah diblokir namun Telegram tetap bertahan berkat arsitektur terdistribusinya.
Ancaman Hukuman
Jika dinyatakan bersalah oleh pengadilan Rusia, Durov berpotensi menghadapi hukuman penjara seumur hidup.
Tuduhan "fasilitasi terorisme" di bawah hukum Rusia membawa sanksi maksimal tersebut meski banyak pengamat internasional menilai dakwaan ini bersifat politis.
>>> Kubu Ruben Onsu Bantah Isu Rumah Dilelang Bank
Di tengah tekanan terhadap Telegram, Rusia gencar mempromosikan MAX, aplikasi pesan instan nasional yang terintegrasi dengan layanan pemerintah, mendukung pembayaran digital, tidak menggunakan enkripsi end-to-end, dan secara eksplisit dapat membagikan data pengguna kepada otoritas.
