Para migran yang ingin memulai hidup baru di Ceuta, kota otonom Spanyol di pesisir Afrika Utara, menceritakan pahitnya perjuangan menembus perbatasan.
Mereka yang memutuskan kembali ke rumah pada Sabtu (1/8) mengaku kepada Reuters bahwa rasa lapar, kelelahan, dan sikap permusuhan warga lokal telah menghancurkan harapan akan kehidupan baru di Eropa.
Awalnya, mereka tergiur oleh video viral di media sosial dan pesan dari teman yang menyebut perbatasan yang dijaga ketat itu bisa ditembus.
Namun, setelah mencapai Ceuta dengan berenang atau melompati pagar, banyak yang mengaku tidak menemukan cara untuk melanjutkan perjalanan ke daratan utama Spanyol.
"Kami datang untuk maju, bukan untuk dibodohi," kata Brahim, pekerja toko roti dari Fez yang meninggalkan pekerjaannya dan menyeberang setelah menonton klip ribuan orang melakukan hal serupa.