unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Spanyol Pasang Penghalang Laut di Perbatasan Ceuta-Maroko Setelah Gelombang Migran Tewaskan 67 Orang
News

Spanyol Pasang Penghalang Laut di Perbatasan Ceuta-Maroko Setelah Gelombang Migran Tewaskan 67 Orang

Penghalang laut di perbatasan Ceuta-Maroko
Spanyol Pasang Penghalang Laut di Perbatasan Ceuta-Maroko Setelah Gelombang Migran Tewaskan 67 Orang
A A Ukuran Teks16px

Spanyol pada Sabtu memasang penghalang laut sepanjang 500 meter di perbatasan antara wilayah Ceuta di Afrika Utara dan Maroko.

Langkah ini diambil setelah puluhan ribu migran menerobos perbatasan pada awal pekan.

Pemerintah Spanyol melaporkan sedikitnya 67 migran tewas, termasuk yang tenggelam dan yang tewas dalam desakan saat melintasi pemecah gelombang.

Gelombang kedatangan 50.000 hingga 60.000 migran pada Kamis dan Jumat memicu krisis kemanusiaan dan kembali memanaskan perdebatan imigrasi di Eropa.

Kritik dan Respons Politik

Kritikus pemerintah sosialis Spanyol, terutama politisi sayap kanan dan kanan jauh, memanfaatkan gambar dramatis massa yang menyerbu Ceuta.

Ceuta terletak di Selat Gibraltar, pintu masuk Laut Tengah, dan telah menjadi wilayah Spanyol sejak 1580.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez mengecam reaksi beberapa pemimpin Uni Eropa terhadap peristiwa di Ceuta.

Ia menyebut seruan agar Spanyol diskors dari kawasan Schengen tanpa batas didorong oleh prasangka, berita palsu, ketidaktahuan, atau kepentingan politik.

Menteri Dalam Negeri Spanyol Fernando Grande-Marlaska membela kerja sama dengan Maroko. "Maroko bukan ancaman bagi Ceuta, atau bagi seluruh Spanyol.

Maroko adalah mitra yang dapat diandalkan," ujarnya.

Seruan Respons Terkoordinasi Uni Eropa

Sejumlah negara Uni Eropa menyerukan pembicaraan mendesak dan respons terkoordinasi terhadap situasi di Ceuta.

Surat yang dirilis kantor perdana menteri Denmark menyatakan kekhawatiran tentang masuknya imigran ilegal yang tidak terkendali dan instrumentalisme migrasi.

Para pemimpin Italia, Denmark, Austria, Belgia, Bulgaria, Siprus, Kroasia, Republik Ceko, Estonia, Finlandia, Jerman, Yunani, Hongaria, Latvia, Lituania, Malta, Belanda, Polandia, Rumania, Slovenia, Slowakia, dan Swedia menandatangani surat yang meminta presidensi Irlandia untuk mengadakan konferensi video menteri dalam negeri.

Sánchez juga meminta konferensi video menteri dalam negeri Uni Eropa untuk menetapkan respons bersama.

Italia mengancam akan menangguhkan perjanjian Schengen dengan Spanyol dan memberlakukan kembali kontrol perbatasan bagi orang yang tiba dari Spanyol melalui udara dan laut.

Migran Kembali ke Maroko

Ratusan migran terus kembali ke Maroko pada Sabtu. Mereka mengaku lapar dan marah, beberapa bertelanjang kaki atau tanpa baju, dan lainnya mengalami luka.

Mereka mengatakan meninggalkan Ceuta setelah perlakuan yang merendahkan di sisi perbatasan Spanyol.

Sebagian besar migran adalah warga Maroko, sementara sebagian kecil berasal dari Afrika sub-Sahara.

Seorang migran bernama Ouail Lamzeiz mengatakan ia memutuskan kembali sendiri setelah delapan hari di Ceuta tanpa makan.

Kehidupan di Perbatasan Terganggu

Di sepanjang Pantai Tarajal, para pengunjung pantai sebagian besar mengabaikan aliran migran yang berjalan menuju perbatasan. Warga Ceuta, Mohamed Abdelatif, 21, mengatakan gelombang migran telah merusak kedamaian kota.

Untuk mencapai Ceuta, migran sering berenang dari kota Fnideq di Maroko, menempuh jarak sekitar 5 kilometer.

Spanyol mengerahkan angkatan bersenjata dan polisi tambahan di Ceuta, sementara pasukan keamanan Maroko menggunakan meriam air, gas air mata, dan tembakan peringatan.

Presiden Ceuta Juan Jesús Vivas mengatakan kehidupan di kota telah terganggu akibat insiden perbatasan. "Kepulangan orang-orang telah dimulai dengan memuaskan, tetapi prosesnya harus diselesaikan," katanya.

Beberapa Migran Tetap Bertahan

Namun, sebagian migran yang berhasil mencapai Ceuta menyatakan tidak berniat kembali. Mohamed Hatri, 23, asal Maroko, mengatakan mereka bertekad tinggal "apakah kami lapar atau tidak."

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru